Mengikis Stigma untuk Mengobati HIV, TB, dan Malaria

Obat untuk HIV, tuberkulosis (TB), dan malaria sudah tersedia dan bisa didapat gratis di fasilitas kesehatan. Lalu, mengapa masih banyak yang terlambat berobat? Penghalangnya sering kali bukan urusan medis, melainkan stigma.
Stigma tidak harus berupa hinaan terang-terangan. Cukup merasa dipandang negatif atau khawatir diperlakukan buruk, seseorang bisa menunda periksa berbulan-bulan hingga penyakitnya terlambat ditangani. Stigma juga bisa tertanam di diri sendiri, ketika pasien percaya bahwa ia memang pantas malu, bersalah, bahkan tak layak dilayani.
Seperti dikutip dari Petunjuk Teknis Penghapusan Stigma dan Diskriminasi oleh Kementerian Kesehatan RI, banyak ketakutan ini berakar pada salah paham. HIV, misalnya, dianggap menular lewat sentuhan, alat makan, toilet, atau gigitan nyamuk. Padahal, HIV hanya menular melalui darah, cairan seksual, dan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Dengan ARV teratur, orang dengan HIV bisa hidup sehat dan produktif. Bila virusnya sudah tidak terdeteksi, ia tidak menularkan.
TB kerap dikira penyakit keturunan, kutukan, atau guna-guna. Faktanya, TB disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan dengan pengobatan sesuai standar. Risiko penularannya pun menurun cepat setelah pengobatan efektif dijalani teratur.
Malaria juga sering disangka menular lewat kontak sehari-hari, udara, atau alat makan. Kenyataannya, malaria ditularkan nyamuk Anopheles betina pembawa parasit, serta secara terbatas lewat transfusi darah dan dari ibu ke janin. Di wilayah bebas malaria pun, kasus bisa muncul dari orang yang baru bepergian dari daerah endemis.
Salah paham berlanjut saat pengobatan berjalan. Batuk atau demam yang hilang bukan tanda boleh berhenti minum obat. Obat harus dihabiskan agar penyakit tidak kambuh.
Kekeliruan yang terus diulang tanpa koreksi lama-lama dianggap wajar. Inilah yang disebut normalisasi. Di fasilitas kesehatan, bentuknya kerap tampak sepele: sarung tangan ganda atau masker untuk pasien HIV tanpa indikasi medis, menyebut pasien dengan label penyakit, membicarakan diagnosis di ruang terbuka, atau memarahi pasien yang terlambat kontrol. Normalisasi juga melekat pada prosedur, seperti kode khusus di map dan kartu pasien atau “ruang HIV/TB” yang mudah dikenali.
Di rumah, batuk atau demam yang berlangsung lama dianggap biasa, lalu diobati sendiri dengan obat sisa atau obat warung. Padahal, keluhan ini bisa jadi gejala TB atau malaria yang perlu segera diperiksa ke puskesmas.
Kabar baiknya, stigma bisa dikikis lewat kebiasaan sehari-hari. Di ruang periksa, petugas cukup memanggil pasien dengan namanya, bukan kode atau nama penyakit. Diagnosis dibicarakan di ruang tertutup, dan sarung tangan atau masker dipakai sesuai indikasi, seperti pada pasien lain.
Keluarga juga berperan besar. Pasien TB harus minum obat setiap hari selama berbulan-bulan, sementara orang dengan HIV minum ARV seumur hidup. Tanpa pendamping, pengobatan panjang ini mudah terputus. Menyembunyikan diagnosis justru membuat pasien menjalaninya sendirian.
Bagi masyarakat, langkah awalnya adalah mencari informasi dari tenaga kesehatan, bukan dari kabar mulut ke mulut. Makin dini penyakit ditangani, makin besar peluang untuk pulih.
HIV, TB, dan malaria kini bisa dikendalikan, bahkan TB dan malaria bisa disembuhkan. Yang masih perlu dibenahi adalah cara kita memperlakukan orang yang sakit. Sapaan yang ramah dan sikap yang tidak menghakimi seringkali menjadi alasan seseorang berani datang berobat, lalu bertahan sampai pengobatannya tuntas.
Baca lebih banyak mengenai stigma sosial dan penangannya:
Memahami Akar dan Siklus Stigma HIV, TB, dan Malaria
(Foto oleh Min An dari Pexels.)