Lompat ke konten utama

Program Malaria Perdhaki

SSR Trapesia Turut Dampingi Kegiatan Microplanning Percepatan Eliminasi Malaria di Nabire

MALARIA PERDHAKI-NABIRE. Dalam upaya menekan lonjakan kasus malaria, Malaria PERDHAKI melalui SSR Trapesia Nabire turut aktif melakukan pendampingan dalam kegiatan Microplanning Percepatan Eliminasi Malaria di Kabupaten Nabire yang dilaksanakan pada 18 dan 19 Juni 2026. Keikutsertaan SSR Trapesia ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam mengawal perencanaan operasional yang tepat sasaran demi membebaskan Nabire dari malaria.

Langkah strategis tersebut diambil sebagai respons diterbitkannya Surat Edaran (SE) Bupati Nabire tentang Percepatan Eliminasi Malaria. Kebijakan ini dikeluarkan menyusul lonjakan kasus yang signifikan, dengan target utama membawa Kabupaten Nabire mencapai status Bebas Malaria pada tahun 2028.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Malaria (SISMAL), Nabire kini menghadapi tantangan dengan adanya kenaikan kasus malaria hingga 161% di akhir tahun 2025, yakni melonjak menjadi 8.556 kasus positif dibanding akhir tahun 2024 yang tercatat sebesar 3.274 kasus. Tren ini bahkan terus berlanjut pada awal tahun 2026. Pada Januari hingga Maret telah ditemukan 776 kasus baru.

Menyikapi situasi darurat tersebut, Kementerian Kesehatan RI memfasilitasi kegiatan microplanning ini dengan menerapkan Metode EDAT (Early Detection and Access to Treatment). Metode yang berfokus pada pencegahan, penemuan kasus secara dini, serta pengobatan yang cepat dan tepat. Ini merupakan strategi andalan Kemenkes yang telah terbukti sukses menekan angka kasus hingga diakui di tingkat internasional.

Melalui pertemuan microplanning ini, para pemangku kepentingan berhasil merumuskan gambaran spesifik mengenai situasi malaria di setiap puskesmas dan kampung. Pemetaan ini mencakup wilayah sebaran penyakit, ketersediaan alat tes cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT), stok obat-obatan, hingga pemenuhan kebutuhan logistik operasional di tingkat distrik dan kampung.

Kesuksesan penyusunan rencana ini tidak lepas dari pendampingan intensif dari berbagai pihak, termasuk Riska Tiara Puspa Dewi dari Kemenkes RI, Yulifizar Kasma dari UNICEF beserta Ronal selaku mitra kerja UNICEF ini dari yayasan Husada, Yenice Derek dari Dinas Kesehatan Provinsi, Edi Sunandar yang bertindak sebagai konsultan dari Dinas Kesehatan Papua Barat, dan Thomas Ara Kian dari SSR Trapesia Nabire.

Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan wujud sinergisitas antara Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK), Malaria Perdhaki (SSR Trapesia Nabire), UNICEF beserta mitra, Kemenkes RI, serta Dinas Kesehatan di tingkat Provinsi dan Kabupaten. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan microplanning ini, agenda berikutnya yang akan segera dilaksanakan adalah pertemuan koordinasi di tingkat kabupaten.

Langkah estafet lintas sektor ini diharapkan dapat memantapkan komitmen dan mematangkan eksekusi program di lapangan demi mempercepat langkah menuju Nabire Bebas Malaria.

Tinggalkan Balasan

id_IDIndonesian

Eksplorasi konten lain dari Program Malaria Perdhaki

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca