Melindungi Kelompok Rentan: Deteksi Dini dan Pengobatan TBC pada Lansia

MALARIA PERDHAKI-JAKARTA. Indonesia masih menghadapi beban tuberkulosis (TBC) yang tinggi. Global Tuberculosis Report 2025 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sekitar 1,1 juta kasus TBC di Indonesia yang menyebabkan 118.000 kematian pada 2024.
Salah satu tantangan terbesar dalam eliminasi TBC adalah banyaknya kasus yang tidak terdeteksi. Jika tidak diobati, penderita dapat menularkan penyakit kepada orang terdekat. Lansia merupakan salah satu kelompok yang berisiko tinggi karena mengalami penurunan imunitas.
Beban TBC pada kelompok usia lanjut terus meningkat, ungkap Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, Bapak Imran Pambudi, seperti dikutip AFU.ID. Data global tahun 2023 mencatat kelompok usia 65 tahun ke atas menyumbang 21% dari seluruh kasus TBC dan 23% dari total kematian akibat penyakit ini. Tren tersebut terus meningkat sejak tahun 2000, bahkan ketika insiden TBC secara keseluruhan justru menurun di berbagai wilayah.
Gejala TBC pada lansia sering menyerupai tanda penuaan atau penyakit kronis lainnya. Batuk lama, penurunan berat badan, atau mudah lelah sering dianggap sebagai proses penuaan yang wajar. Akibatnya, banyak kasus terlambat terdeteksi dan berisiko menularkan penyakit. Rantai penularan semakin sulit diputus karena banyak lansia tinggal serumah dengan tiga generasi, sehingga berisiko menjadi sumber penularan bagi anak-anak dalam satu rumah tangga.
Diagnosis yang terlambat bisa berakibat fatal karena TBC pada lansia cenderung lebih berat dan memiliki risiko kematian tinggi.
Pengobatan juga menjadi tantangan karena banyak lansia memiliki penyakit komorbid, yakni dua atau lebih penyakit secara bersamaan, sehingga harus mengonsumsi berbagai obat. Efek samping obat TBC, seperti gangguan hati, juga lebih sering terjadi pada usia lanjut. Oleh karena itu, pendampingan intensif dari keluarga dan kader kesehatan sangat penting agar pengobatan tuntas.
“Kelompok rentan ini menghadapi hambatan struktural, stigma, bahkan kekerasan yang membuat akses ke pelayanan kesehatan menjadi sulit atau berbahaya,” Bapak Imran menambahkan.
Kementerian Kesehatan berupaya memperkuat dan memperluas strategi deteksi aktif di titik layanan yang paling dekat dengan lansia, yakni posyandu lansia, panti wreda, dan layanan kesehatan primer.
Diperlukan juga pelatihan khusus bagi tenaga kesehatan agar mampu mengenali tanda-tanda TBC pada usia lanjut sekaligus mengelola polifarmasi—yakni penggunaan lebih dari lima jenis obat sekaligus—secara aman.
Pendekatan berbasis komunitas terbukti efektif dalam membangun kepercayaan pasien, mendeteksi kasus baru, serta menjaga kepatuhan mengonsumsi obat. Peran komunitas ini perlu diperkuat melalui pendanaan berkelanjutan serta jaminan stabilitas rantai pasokan dan data, ujar Bapak Imran.
Lansia bisa sembuh dari TBC dan hidup sehat di usia senja. Mari bersama kita eliminasi TBC dengan deteksi dini, pengobatan rutin, dan dukungan keluarga.
Foto oleh Saulo Meza di Unsplash