
Langkah Pengendalian Menuju Indonesia Bebas Malaria 2030
MALARIA PERDHAKI—JAKARTA. Pemerintah Indonesia menargetkan bebas malaria pada 2030. Berdasarkan data hingga Juli 2026, sebanyak 414 kota telah mencapai eliminasi malaria.
Sertifikat eliminasi ditetapkan apabila tidak ada penularan lokal, surveilans dilaksanakan secara berkelanjutan, serta angka hasil pemeriksaan positif tidak melebihi 5 persen selama tiga tahun berturut-turut.
Namun, status eliminasi tidak berarti suatu daerah sepenuhnya terbebas dari risiko malaria. Bu Risalia Reni Arisanti, peneliti Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus dosen FK-KMK UGM, mengingatkan bahwa daerah yang telah mencapai eliminasi masih berpotensi mengalami peningkatan kasus, seperti dikutip dari Star Jogja FM.
Hingga Juli 2026, Indonesia mencatat 346.866 kasus malaria yang masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah Indonesia Timur, antara lain Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT) — khususnya Pulau Sumba — serta beberapa wilayah di Maluku.
“Lebih dari 90 persen kasus dikontribusikan dari wilayah Tanah Papua,” ujar Bu Santi.
Untuk mencapai target 2030, pengendalian perlu difokuskan pada wilayah dengan angka kasus tinggi. Masyarakat yang bepergian dari wilayah endemis dianjurkan melakukan deteksi dini tanpa menunggu munculnya gejala. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui tes cepat (rapid test) maupun pemeriksaan mikroskopis.
Hasil pemeriksaan awal yang negatif tidak menjamin seseorang bebas dari malaria, sebab gejala dapat muncul tujuh hingga 14 hari setelah infeksi terjadi.
“Kalau memang baru pulang dari daerah endemis, jangan merasa aman hanya karena pemeriksaan awalnya negatif. Tetap perlu dipantau,” jelas Bu Santi.
Selain deteksi dini dan pengobatan, eliminasi malaria perlu dituntaskan hingga ke akarnya melalui langkah-langkah pencegahan. Secara umum, terdapat tiga upaya pengendalian vektor malaria, yaitu membasmi sarang nyamuk, memperkenalkan pemangsa jentik, dan menghindari gigitan nyamuk.
Pertama, lingkungan harus dibersihkan dari sarang nyamuk. Hal ini dapat dilakukan melalui gotong royong untuk mengeringkan genangan air, membersihkan saluran air, serta membersihkan lumut pada mata air dan danau.
Kedua, populasi nyamuk malaria dapat ditekan dengan menebar pemangsa jentik dan larvasida di sungai, kolam, serta genangan air lainnya. Tanaman seperti kecombrang, serai, dan lavender juga terbukti efektif mengusir nyamuk.
Ketiga, gigitan nyamuk malaria dapat dihindari dengan menggunakan kelambu saat tidur, memakai obat anti-nyamuk, serta mengenakan pakaian tertutup saat beraktivitas di luar rumah pada malam hari. Kondisi rumah pun perlu diperhatikan, seperti memasang kawat kasa pada ventilasi dan menjauhkan kandang ternak dari hunian.
(Foto oleh Mufid Majnun di Unsplash)