Lompat ke konten utama

Program Malaria Perdhaki

Layanan Inklusif dan Kolaborasi: Kunci Penanggulangan HIV/AIDS

Seorang profesional medis mengukur tekanan darah dengan alat digital pada lengan pasien, mengenakan sarung tangan berwarna biru.

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini ditularkan melalui kontak terhadap cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, atau air susu dari payudara.

Virus HIV menginfeksi tubuh dalam beberapa tahapan. Pada fase akut, gejala belum tampak walaupun virus sudah menyerang sistem kekebalan tubuh. Pada fase kronis, sistem imun mulai menurun, yang ditandai dengan penderita mengalami batuk, diare, atau demam serta infeksi menular seksual seperti kutil kelamin, herpes, atau luka pada alat kelamin yang sulit sembuh.

Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dalam sekitar 10 tahun. AIDS, yakni stadium akhir dari infeksi HIV, ditandai dengan daya tahan tubuh yang tidak mampu melawan penyakit.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi HIV di Indonesia diperkirakan mencapai 0,7% atau sekitar 1,96 juta orang. Namun, cakupan identifikasi baru mencapai 564.000 orang hidup dengan HIV pada tahun 2025.

Penanggulangan HIV dilakukan melalui identifikasi, perluasan pengobatan, serta penghapusan stigma di masyarakat.

Hingga Oktober 2025, sebanyak 259.719 orang (67%) menjalani terapi antiretroviral dan 144.747 orang yang telah diperiksa menunjukkan supresi virus. Indonesia sendiri mengejar target mengakhiri AIDS tahun 2030 dengan Triple 95, yakni 95% mengetahui status, 95% menjalani pengobatan, dan 95% yang diobati mencapai supresi virus.

Tenaga kesehatan serta komunitas berperan penting dalam memperluas akses layanan untuk melakukan deteksi, pendampingan pasien, serta akses pengobatan bagi masyarakat luas. Meskipun demikian, banyak orang masih enggan datang ke fasilitas kesehatan untuk melakukan deteksi akibat stigma sosial.

Pemerintah Indonesia akan memperkuat surveilans, ketersediaan obat, serta promosi kesehatan yang komprehensif berbasis komunitas.

Upaya memperluas akses layanan pengobatan bagi penderita HIV mulai tampak di berbagai daerah. Tim di pusat kesehatan masyarakat tersebut juga telah mendapatkan pelatihan, sehingga mampu memberikan layanan kepada pasien.

Selain itu, penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga komunitas.

Pemerintah daerah berkolaborasi dengan komunitas dan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) untuk memperluas layanan pencegahan, deteksi dini, dan dukungan untuk orang dengan HIV. OMS menjadi garda terdepan dalam penemuan kasus baru, pendampingan orang dengan HIV, serta penghubung akses layanan kesehatan dan sosial.

OMS berperan penting menjangkau kelompok yang sulit mengakses layanan, memberikan edukasi, serta mendampingi orang dengan HIV agar mendapatkan layanan kesehatan dan sosial secara berkelanjutan. Langkah ini mempercepat pencapaian target penanggulangan HIV/AIDS sekaligus menciptakan lingkungan yang sehat, inklusif, dan bebas stigma.

(Foto oleh Nappy di Unsplash.)

Tinggalkan Balasan

id_IDIndonesian

Eksplorasi konten lain dari Program Malaria Perdhaki

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca