Hidup Berkualitas di Era Modern Bersama HIV

MALARIA PERDHAKI-JAKARTA. Bagi sebagian besar orang, deteksi diagnosis positif HIV-AIDS masih sering dianggap sebagai akhir dari kehidupan. Ketakutan ini sangat manusiawi. Namun dengan teknologi kedokteran modern, ketakutan tersebut tidak lagi menjadi relevan. Orang dengan HIV (ODHIV) kini dapat hidup dengan produktif, memiliki angka harapan hidup yang hampir sama dengan orang tanpa HIV, bahkan ODHIV kini juga tidak lagi menularkan virus kepada pasangan dan anak mereka.
Kunci utama dari transformasi medis ini adalah obat Antiretroviral (ARV). Kehadiran obat ini yang bisa mengubah status HIV, dari penyakit yang mematikan menjadi kondisi medis yang dapat dikelola dengan baik. Serupa dengan cara kita mengendalikan diabetes dan hipertensi.
ARV bekerja dengan cara mengendalikan replikasi virus secara efektif di dalam tubuh. Dengan demikian, sistem imun tubuh tetap terjaga dan ODHIV terhindar dari fase AIDS.
Ketika ODHIV mengonsumsi ARV dengan disiplin, jumlah virus dalam darah dapat ditekan hingga tingkat yang tidak terdeteksi (undetectable). Pada kondisi ini, jumlah virus sangat sedikit sehingga alat pemindai laboratorium paling sensitif tidak dapat lagi mendeteksi keberadaannya.
Jika status tidak terdeteksi ini berhasil dipertahankan secara konsisten selama minimal enam bulan dengan pemeriksaan Viral Load (VL) HIV, virus tersebut tidak dapat ditularkan (untransmittable). Keadaan ini membuka jalan bagi pasangan suami-istri dengan HIV untuk merencanakan kehamilan.
Studi berskala besar dengan data klinis ratusan ribu pasien di Eropa dan Amerika Utara menunjukkan angka harapan hidup yang signifikan sejak era ARV modern pasca-2015. Seseorang yang terdiagnosis HIV pada usia 20 atau 40 tahun dan langsung memulai terapi ARV secara konsisten, memiliki usia harapan hidup mencapai 73 hingga 78 tahun atau lebih. Hal ini menunjukkan bahwa selisih angka harapan hidup antara ODHIV yang patuh dengan orang tanpa HIV hanya berbeda beberapa tahun.
Namun, pasien dengan status tidak terdeteksi dan tidak menularkan tidak berarti sembuh secara total dari HIV, tetapi kondisi virus yang terkendali. Jika konsumsi ARV terhenti atau tidak diminum secara teratur, jumlah virus akan kembali melonjak dengan cepat di dalam darah.
Dalam jangka panjang, tubuh ODHIV juga bisa menjadi kebal atau resisten terhadap jenis ARV yang sedang dikonsumsi. Akibatnya, obat tersebut tidak lagi mempan dan dokter harus menggantinya dengan kombinasi obat baru yang jauh lebih kompleks dan berpotensi memiliki efek samping yang lebih berat.
Oleh karena itu, ODHIV dianjurkan untuk terus minum obat ARV pada waktu yang sama dan tanpa jeda setiap harinya. ODHIV juga disarankan untuk melakukan kontrol rutin ke layanan kesehatan. Hal tersebut juga harus diimbangi dengan penerapan pola hidup sehat seperti menjaga asupan nutrisi dan berolahraga secara teratur.
Akhirnya, bagi siapa pun yang merasa memiliki risiko, sangat disarankan untuk melakukan deteksi dini. Semakin cepat HIV diketahui, semakin cepat pula penanganan medis dapat dimulai demi masa depan yang lebih sehat dan bahagia. (Foto oleh Sasun Bughdaryan di Unsplash)