Pelatihan Strategi Komunikasi dan Penggerakan Masyarakat Menjadi Langkah Nyata Tokoh Kunci Manokwari dalam Berantas Malaria

Dalam upaya menekan angka kasus malaria di tanah Papua, Malaria Perdhaki melalui SR Yatima, SSR Perdu, dan SSR PTPS menyelenggarakan pelatihan intensif bertajuk “Strategi Komunikasi dan Penggerakan Masyarakat Bagi Tokoh Kunci.” Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 30 Juni hingga 2 Juli 2026 di Swiss-Belhotel Manokwari ini menyasar para tokoh kunci dari Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Manokwari Selatan.
Malaria Perdhaki berkomitmen untuk membangun kesadaran kolektif dari tingkat akar rumput melalui kegiatan ini. Harapannya penanganan malaria dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan oleh masyarakat setempat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Frans Abidondifu, dalam sambutannya menitipkan harapan besar agar isu kesehatan ini diintegrasikan ke dalam regulasi formal desa. Ia mengajak seluruh kepala kampung dan aparat yang hadir untuk mengambil peran aktif tanpa harus menunggu instruksi atau program dari pemerintah pusat.
Frans menegaskan pentingnya menciptakan payung hukum mandiri melalui Peraturan Kampung atau Peraturan Desa, serta berharap para peserta pulang tidak hanya membawa ilmu komunikasi, melainkan juga rencana aksi konkret untuk menyusun regulasi tersebut dan mengalokasikan anggaran khusus dari dana kampung.
Pelatihan ini diikuti oleh 30 tokoh kunci yang mayoritas di antaranya merupakan kepala kampung yang didampingi oleh sekretaris kampung atau Badan Permusyawaratan Kampung, serta keterwakilan dari tokoh agama setempat. Para peserta ini datang membawa aspirasi dari 14 kampung di kedua kabupaten tersebut.
Untuk wilayah Kabupaten Manokwari Selatan, keterwakilan berasal dari enam kampung yang tersebar di lima distrik meliputi Isim, Neney, Ransiki, Oransbari, dan Tahota. Sementara untuk Kabupaten Manokwari, para peserta mewakili delapan kampung dari tiga distrik, yaitu Distrik Sidey, Nuni, dan Maripi.
Selama tiga hari pelaksanaan, para tokoh kunci ini dibekali dengan berbagai materi komprehensif untuk mendukung peran mereka sebagai penggerak masyarakat. Mereka tidak hanya belajar tentang teknik komunikasi antarpribadi yang persuasif, tetapi juga mendalami aspek manajerial seperti alur penyusunan peraturan kampung dan mekanisme pengajuan alokasi dana kampung.
Selain itu, materi mengenai kemitraan dalam advokasi pembuatan kebijakan hingga penyusunan rencana kerja operasional turut diberikan. Sekembalinya ke kampung masing-masing, para pemimpin ini siap mengeksekusi langkah nyata demi membebaskan kampung mereka dari ancaman malaria.