Lompat ke konten utama

Program Malaria Perdhaki

Strategi Komunikasi dan Penggerakan Masyarakat: Kepala Kampung Jadi Motor Penggerak Eliminasi Malaria di Boven Digoel

MALARIA PERDHAKI – TANAH MERAH. Malaria Perdhaki, melalui Sub-Recipient (SR) Keuskupan Agung Merauke (KAMe), bersama SSR Mindiptana dan SSR Mindiptana 2, menggelar kegiatan pelatihan “Strategi Komunikasi dan Penggerakan Masyarakat bagi Tokoh Kunci”. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Juni 2026, bertempat di Aula Seminari, Kabupaten Boven Digoel.

Sesuai dengan tajuk pelatihan, acara ini dihadiri oleh para tokoh kunci dari berbagai wilayah. Mayoritas peserta merupakan para kepala kampung yang didampingi oleh aparat desa lainnya, mulai dari sekretaris desa hingga unsur Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam). Total peserta yang hadir sebanyak 26 orang, yang mewakili 13 kampung dari 5 distrik di Kabupaten Boven Digoel, yaitu Distrik Arimop, Iniyandit, Waropko, Mindiptana, dan Subur. Selama pelatihan, para peserta turut didampingi oleh 3 Relawan Eliminasi Malaria (REM) dan 1 Civil Society Organization (CSO).

Keterlibatan aktif kepala kampung dinilai sangat krusial dalam upaya eliminasi malaria. Sebagai pemimpin di tingkat tapak, komitmen kepala kampung menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi program di lapangan. Kepala kampung memegang kewenangan strategis untuk mengalokasikan anggaran Dana Desa bagi program kesehatan serta merumuskan kebijakan atau aturan lokal guna mendukung lingkungan yang sehat. Selain itu, sebagai figur yang didengar dan dihormati oleh masyarakat, kepala kampung sangat efektif dalam menggerakkan kader lapangan serta mengedukasi warga agar mampu mengubah pola pikir (mindset) untuk tidak lagi menganggap malaria sebagai penyakit yang lumrah.

Kegiatan strategis ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boven Digoel, Adolof Andatu. Dalam sambutannya, Adolof menekankan betapa pentingnya peran kepala kampung dalam mata rantai pemberantasan malaria. Ia menyoroti tingginya angka kasus malaria harian di wilayah tersebut serta dampak serius yang ditimbulkannya. Menurutnya, malaria bukan sekadar penyakit biasa karena dampaknya bisa berujung pada kematian, bahkan mengancam kesehatan ibu hamil yang berisiko menyebabkan bayi terlahir cacat. Oleh karena itu, Adolof berharap kepedulian yang sama tumbuh dari seluruh lapisan masyarakat agar proses eliminasi tidak hanya bersandar pada tenaga kesehatan, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.

Selama tiga hari pelatihan, para peserta dibekali dengan berbagai materi esensial, mulai dari teknik komunikasi antarpribadi yang efektif, metode diskusi kelompok di kampung, hingga pemahaman komprehensif mengenai penanganan dan pengobatan malaria. Melalui pelatihan ini, para tokoh kunci diharapkan dapat kembali ke wilayah masing-masing dan langsung bertindak sebagai motor penggerak utama.

Langkah nyata yang dinantikan pasca-kegiatan ini adalah perumusan Peraturan Kampung (Perkam) terkait pencegahan dan eliminasi malaria demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, pembentukan Tim Malaria Kampung, serta komitmen anggaran yang nyata.

Tinggalkan Balasan

id_IDIndonesian

Eksplorasi konten lain dari Program Malaria Perdhaki

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca