Siap Mengabdi, Kader Malaria Baru Teluk Wondama Langsung Turun Aksi di Kampung Rodo

MALARIA PERDHAKI—Teluk Wondama. Setelah digembleng selama empat hari penuh di ruang kelas Aitumeri Inn, para peserta Pelatihan Kader Malaria akhirnya terjun langsung ke lapangan. Pada hari terakhir pelatihan, 13 Juni 2026, sebanyak 26 kader malaria mendatangi Kampung Rodo, Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, untuk mempraktikkan ilmu yang telah mereka serap langsung ke rumah-rumah warga.
Mengenakan rompi ungu kebanggaan bertuliskan “Kader Malaria”, kehadiran para kader disambut hangat oleh Kepala Kampung Rodo, Bapak Paul, beserta seluruh aparat dan kader malaria setempat. Berbekal alat Rapid Diagnostic Test (RDT), logistik obat-obatan, dan larvasida, para kader tampak sangat siap memulai aksi nyata sejak pagi hari.
Dalam praktik lapangan ini, 26 peserta dibagi ke dalam lima kelompok kecil untuk menyisir rumah-rumah warga secara merata. Mereka bergerak aktif melakukan skrining kesehatan warga menggunakan RDT, memberikan obat antimalaria di tempat jika ditemukan warga yang positif, serta menyampaikan penyuluhan kesehatan terkait pencegahan penyakit tersebut. Tidak hanya itu, para kader juga melakukan pemetaan langsung untuk menemukan tempat perindukan nyamuk sekaligus menaburkan larvasida guna membasmi jentik-jentik nyamuk Anopheles.
Sebagai salah satu wilayah yang masih berstatus endemis malaria, tantangan nyata langsung ditemukan di lapangan. Lovely Angelica Mariai, peserta asal Kampung Maniwak, menceritakan bahwa kelompoknya berhasil menemukan kasus positif di salah satu rumah warga yang mereka kunjungi.
“Dengan pendampingan dari para tenaga kesehatan yang andal, kami langsung memberikan pengobatan dan mengisi formulir laporan yang diperlukan. Pelatihan empat hari kemarin memberi kami bekal yang cukup dan membuat kami siap menghadapi situasi yang nyata di lapangan,” ujar Lovely optimis.
Pengalaman berharga juga dirasakan oleh Irma Vera Mariai, peserta dari Kampung Isuy. Menurutnya, dinamika di lapangan memberikan pelajaran yang tidak didapatkan di dalam kelas, salah satunya saat harus menghadapi anak-anak yang notabene membutuhkan pendekatan khusus.
Di lapangan suasananya terasa sangat berbeda karena mereka berkesempatan melakukan RDT langsung pada anak-anak, yang tentu saja memerlukan penanganan yang sedikit berbeda dibanding orang dewasa. Irma mengakui bahwa teori dan praktik intensif di kelas sangat membantu meningkatkan rasa percaya diri mereka, terutama saat harus berbicara dan memberikan penyuluhan kesehatan di depan warga.
Kesuksesan praktik lapangan ini menuai apresiasi tinggi dari Agus Budi, selaku Ketua Pelaksana sekaligus Program Manager SSR Trapesia. Ia mengaku bangga atas kerja keras dan dedikasi yang ditunjukkan oleh seluruh peserta selama pelatihan hingga turun ke kampung. Agus juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Kampung Rodo dan aparatnya atas sambutan hangat yang diberikan kepada para kader baru.
Agus berharap api semangat para kader malaria baru ini tetap menyala dalam melayani masyarakat di kampung masing-masing. Di samping itu, dukungan penuh dari kepala kampung asal para kader juga dinilai sangat krusial agar program pemberantasan malaria ini bisa berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.