Program Malaria Perdhaki

Jemput Bola di Garis Pantai: Dedikasi Kader Malaria dan Komitmen Pemerintah Daerah Menuju Mimika Bebas Malaria

MALARIA PERDHAKI–MIMIKA. Di tengah deburan ombak dan teriknya matahari Distrik Mimika Barat Tengah, sebuah misi kemanusiaan sedang berlangsung. Perang melawan malaria di wilayah ini tidak lagi hanya menunggu di Puskesmas, melainkan telah berpindah ke garis depan: pesisir pantai dan hamparan pasir.

Para Kader Malaria dari Kampung Puskesmas Ipaya, di bawah naungan SSR Paroki Emanuel Mapurujaya, membuktikan bahwa dedikasi tidak mengenal lelah. Mereka harus menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki menuju lokasi yang disebut warga lokal sebagai “Pasir”—tempat tinggal sementara masyarakat asli Papua saat musim mencari ikan dan kepiting.

Bagi para kader, mencari pasien bukanlah sekadar kunjungan rumah ke rumah di lingkungan yang tertata. Tantangan geografis dan pola hidup masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden berdasarkan musim) menuntut mereka untuk beradaptasi secara ekstrem.

“Kalau kami menunggu di kampung, tidak banyak yang kami periksa karena masyarakat sudah banyak di pantai. Jadi kami yang mendatangi mereka ke Pasir, di pondok-pondok pinggir pantai,” ungkap Ludiwina Etewe, salah satu kader malaria dengan semangat membara.

Kondisi di “Pasir” jauh dari kata layak. Warga yang bermukim sementara di sana biasanya hanya mendirikan tenda dari terpal sebagai atap. Tanpa alas tidur, tanpa tikar—mereka tidur langsung bersentuhan dengan pasir pantai.

Pola hidup masyarakat pesisir Mimika sangat bergantung pada alam. Masyarakat akan berpindah dari teluk ke teluk mengikuti pergerakan ikan. Setelah musim ikan dan udang berkurang, barulah mereka kembali ke kampung halaman.

Kader malaria menjalankan strategi “jemput bola” secara efektif dengan memeriksa kesehatan warga pesisir secara langsung di lokasi mereka berada. Begitu menemukan warga yang positif malaria, kader segera memberikan obat Dihydroartemisinin-Piperaquine (DHP) dan Primakuin sesuai standar kesehatan yang berlaku. Para kader juga memantau secara ketat konsumsi obat tersebut untuk memastikan pasien meminumnya hingga tuntas guna mencegah kekambuhan atau resistensi obat. Selain memberikan pengobatan, kader memanfaatkan waktu di tengah pondok terpal untuk memberikan edukasi langsung mengenai pentingnya penggunaan kelambu dan cara menghindari gigitan nyamuk di alam terbuka.

Perjuangan para Kader Malaria bukan tanpa hambatan. Melihat dedikasi yang luar biasa ini, Kepala Kampung memberikan apresiasi nyata. Tidak hanya sekadar pujian, Pemerintah Kampung kini mengalokasikan insentif tambahan melalui Dana Kampung untuk mendukung kesejahteraan para kader.

Kepala Kampung juga memberikan instruksi tegas kepada aparat kampung dan Ketua RT untuk mengawal kerja para kader di lapangan. “Aparat wajib membantu kader jika ada warga yang marah atau menolak. Kita harus pasang badan, karena ini urusan nyawa,” tegas Kepala Kampung.

Dedikasi Kader Malaria di Distrik Mimika Barat Tengah menunjukkan bahwa eliminasi malaria membutuhkan lebih dari sekadar program di atas kertas. Dibutuhkan kemauan untuk berjalan lebih jauh, menyisir pantai, dan merangkul warga hingga ke titik tersulit. Semangat membara para kader ini adalah napas utama bagi kesehatan masyarakat pesisir Papua.

Tinggalkan Balasan

id_IDIndonesian

Eksplorasi konten lain dari Program Malaria Perdhaki

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca