Cahaya Werianggi, Tiga Tahun Pengabdian Yeni Dewi di Garis Depan Eliminasi Malaria

MALARIA PERDHAKI–TELUK WONDAMA. Di Kampung Werianggi, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, perjalanan eliminasi malaria bukanlah cerita instan. Ia tumbuh dari kesabaran, ketekunan dan keberanian para kader yang bekerja dalam sunyi, menjangkau rumah demi rumah. Selama tiga tahun terakhir, Yeni Dewi, kader malaria setempat mengabdikan diri menjadi jembatan harapan di tengah masyarakat yang beragam dan penuh tantangan.
Mengawali tugas tidaklah mudah bagi Yeni. Kehadirannya sempat dihadapkan pada penolakan dari sebagian warga. Tidak sedikit yang enggan diperiksa, bahkan ada pula masyarakat yang belum sepenuhnya menerima keberadaan dirinya karena latar belakang sebagai amber atau sebutan bagi warga non-Papua yang tinggal di kawasan transmigrasi dengan komunitas multietnis.
“Waktu itu saya tidak memaksakan. Saya hanya menyampaikan satu pesan sederhana; kalau kamu sakit dan mau diperiksa, panggil saya,” kenang Yeni.
Seiring waktu, pendekatan persuasif tersebut perlahan membuka jalan. Melalui kunjungan rumah dari pintu ke pintu, peran Yeni tidak hanya sebatas melakukan pemeriksaan malaria, tetapi juga menjadi penyampai edukasi kesehatan. Ia menjelaskan kepada masyarakat tentang penyebab malaria, cara pencegahan, pentingnya pengobatan tepat dan tuntas serta penggunaan kelambu sebagai perlindungan utama dari gigitan nyamuk saat beristirahat di malam hari.
Upaya sederhana namun konsisten itu menumbuhkan kepercayaan. Masyarakat mulai terbuka, bukan hanya menerima pemeriksaan, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi mengenai kesehatan mereka.
Kasus malaria pertama yang teridentifikasi di wilayah ini tidak berasal dari warga kampung, melainkan dari para pekerja proyek Jalan Trans Papua. Sebagian besar merupakan buruh migran dari Manokwari dan Nabire. Tercatat sembilan kasus impor ditemukan, seiring tingginya mobilitas pekerja serta perjalanan masyarakat ke daerah endemis malaria.
Situasi tersebut semakin menegaskan pentingnya deteksi dini dan edukasi berkelanjutan. Tanpa upaya pencegahan dan pengobatan tuntas, malaria dapat menyebar dengan cepat serta berujung pada komplikasi berat hingga kematian. Di sinilah peran kader menjadi krusial, bukan sekadar sebagai petugas pemeriksa, tetapi sebagai penjaga kesehatan di tingkat akar rumput.
“Membantu masyarakat terhindar dari malaria adalah hal yang sangat bermakna bagi saya,” tutur Yeni.
“Kalau kita tidak mencegah, malaria bisa menyebabkan kematian. Karena itu, tugas kader bukan sekadar pekerjaan, ini tentang menyelamatkan nyawa dan melindungi generasi,” tegasnya.
Di Werianggi, perjalanan pengabdian Yeni Dewi menjadi bukti bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil: sebuah pesan tulus, kunjungan tanpa lelah dan komitmen untuk terus hadir. Di balik data dan laporan eliminasi malaria, selalu ada kisah para kader yang setia bekerja dalam diam demi terwujudnya Papua bebas malaria. (Agustinus W. Prasetyo, PM SSR Trafesia Kabupaten Teluk Wondama)