MALARIA PERDHAKI, Jakarta – Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI, kasus malaria di Indonesia masih menjadi tantangan serius. Dari total 749.055 pemeriksaan yang dilakukan, sebanyak 137.469 kasus terkonfirmasi positif malaria. Dari jumlah tersebut, 119.981 pasien telah mendapatkan pengobatan standar sesuai prosedur medis yang berlaku. Sayangnya, penyakit ini tetap membawa dampak fatal, dengan 8 pasien dilaporkan meninggal dunia, menurun dari data bulan Februari sebelumnya yang besarnya 23 pasien meninggal dunia.
Angka ini masih terus menunjukkan tetap pentingnya upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan tepat waktu guna menekan penyebaran malaria. Berbagai pihak, termasuk Program Malaria Perdhaki terus mengambil bagian berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui edukasi serta memastikan ketersediaan layanan kesehatan bagi daerah terdampak malaria.
Program Manager Malaria Perdhaki, dr. Yohanes Ari Hermawan di Jakarta, Rabu (09/04/2025), mengatakan bahwa upaya-upaya penanggulangan harus semakin meningkatkan sinergitas gerakan advokasi. “Kami di Program Malaria Perdhaki, ada konsep “ABC” yang sudah lama dijadikan strategi program. Nah, ini perlu semakin disinergikan. Maksudnya, konsep ini bukan saja strategi dalam konsep saja, tetapi betul-betul dilaksanakan Bersama. Artinya, sinergis itu. Semua terlibat. Kalau kami di lapangan misalnya, semua diharapkan terlibat: pemda, Lembaga agama, tokoh masyarakat,” kata dr. Ari.

Dokter Ari juga menambahkan bahwa sinergitas advokasi itu perlu dipahami sebagai peranan aktif Program Malaria Perdhaki dalam memastikan bahwa penanganan malaria tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga medis atau pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Melalui advokasi, kata Dokter Ari, Program Malaria Perdhaki mendorong keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga keagamaan, hingga tokoh masyarakat, agar lebih peduli dan berkontribusi dalam upaya pencegahan dan pengendalian malaria. Kegiatan advokasi ini bertujuan menciptakan dukungan yang luas untuk kebijakan dan program yang berpihak pada penguatan upaya pencegahan malaria di tingkat komunitas.
“Nah setelah sinergitas dalam upaya mengadvokasi itu, selanjutnya soal melakukan upaya Komunikasi Perubahan Perilaku atau Behavior Change Communication. Nah di sini, perubahan perilaku individu dan lingkungan sekitar melalui komunikasi yang efektif menjadi sangat penting. Selama ini kami di Perdhaki, kegiatan edukasi dan diskusi kampung, komunitas, serta sekolah menjadi bagian integral dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan terkait malaria,” lanjut dr. Ari, menjelaskan.
Menurut dr. Ari, sinergitas dalam advokasi dan komunikasi perubahan perilaku tadi menjadi lengkap dengan upaya pemberdayaan masyarakat, di mana Program Malaria Perdhaki menanamkan gagasan bahwa masyarakat memiliki potensi dan tanggung jawab untuk turut serta dalam gerakan melawan malaria.
“Pemberdayaan ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan kader, peningkatan kapasitas warga, dan pembentukan sistem pemantauan berbasis komunitas yang bertujuan menciptakan kemandirian dalam menjaga lingkungan bebas malaria. Dengan mengintegrasikan ketiga pendekatan ini secara sinergis, strategi ABC Program Malaria Perdhaki menjadi model intervensi sosial yang relevan dan berdampak untuk memberantas malaria secara berkelanjutan,” tutup dr. Ari.
Informasi ini disusun oleh Komunikasi Publikasi PR Program Malaria Perdhaki. Diperbolehkan untuk dikutip oleh pers. Untuk informasi lebih lanjut hubungi kontak kami.