Program Malaria Perdhaki

MALARIA PERDHAKI, Timika – Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) mengungkapkan penderita penyakit positif malaria di Paniai didominasi penyakit malaria impor. Direktur YAPKEMA, Hanok Herison Pigai membeberkan, pihaknya telah menemukan pasien dengan positif malaria sebanyak 9 orang. Masing-masing 7 dari Kampung Mogeya, 1 di Kampung Obaiyoweta, dan 1 di Kampung Epouto.

“Jenis malaria yang ada di tiga tempat itu dikategorikan malaria impor. Malaria impor artinya, penyakit yang dibawa oleh masyarakat yang pernah hidup di Nabire, Jayapura, atau Timika lalu pernah terserang parasit malaria kemudian datang ke kampungnya. Bukan mereka yang tinggal menetap di kampung,” ungkapnya menjelaskan saat Lokakarya Malaria Perdhaki di Aula GSG Uwata Wogi Yogi, Enarotali, Papua, Jumat, 13 Oktober 2017.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Marselino Mameyao | Foto: Seputar Papua

Dalam lokakarya itu, Pigai menyampaikan, lokakarya tentang malaria dilakukan untuk mencegah dan melawan penyakit malaria di Kabupaten Paniai dan wilayah Meepago pada umumnya. Katanya, walaupun angka kasus malaria positif di Kabupaten Paniai rendah, namun penyakit tersebut perlu mendapat perhatian dan keseriusan, terutama terhadap penyakit mematikan seperti HIV/AIDS. “Sehingga (malaria) harus diseriusi. Jumlah penderita positif malaria yang kami temukan di Paniai ada 9 kasus. Itu tidak banyak. Tapi malaria harus tetap dicegah. Apalagi sampai bulan September kemarin ini, penderita penyakit AIDS jumlahnya sudah seribuan orang. Itu untuk yang (datang) periksa,” kata Hanok.

Untuk memperlancar kerja, kata dia, pihaknya telah membentuk UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) sejak tahun 2016. UKBM tersebut berlokasi di empat kampung: UKBM Mogeya di Paniai Barat, UKBM Ugidimi di Bibida, UKBM Obaiyoweta di Paniai Timur yang sekarang bernama Wegebino, dan UKBM Epouto di Kecamatan Yatamo. “Kami berkoordinasi langsung dengan kepala-kepala puskesmas di mana UKBM berada. Jadi semua tenaga kesehatan yang ada terlibat langsung dalam program Malaria Perdhaki ini,” jelasnya.

Ia menyebutkan, Kepala Puskesmas Bibida, Natalis Zonggonau, Ibu Wandik, Kepala Puskesmas Obano menunjuk Suster Yanuaria Utii – tenaga honorer, Puskesmas Yatamo menugaskan Bidan Selviana Bobii, dan dr. Laswan menugaskan Suster Gobai serta kader-kader kesehatan yang diambil dari masing-masing kampung yang sudah lama bekerja atau terlibat dalam setiap program YAPKEMA sebelumnya. “Sebelum program Malaria Perdhaki ini ada, mereka-mereka ini sebelumnya dengan YAPKEMA sudah bekerja di bidang HIV/AIDS. Jadi mereka bukan orang baru,” terangnya. Dikatakan, mereka sudah diberi pelatihan dan pembekalan pengetahuan pokok serta praktis tentang malaria. Mereka juga ditatar soal keterampilan dasar untuk menghitung umur bayi, menghitung napas, dan mengenali tanda-tanda bahaya pada balita.

“Harapannya supaya mereka saat menjalankan pemeriksaan dan pengobatan malaria, mereka juga dapat berperan memberikan pertolongan atau rujukan untuk kasus-kasus gawat darurat yang tidak bisa ditangani di puskesmas,” beber dia. Lebih dari itu, tujuannya, kata dia, untuk menurunkan angka kematian Orang Asli Papua yang kian signifikan tiap tahun, yang berdampak pada genosida. Alberth H., Program Manajer Yayasan Caritas Timika Papua (SR YCTP) Keuskupan Timika, mengatakan tujuan dari program Malaria Perdhaki adalah terhapusnya penyakit malaria di daerah Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan angka kematian menurun.

Di wilayah Meepago, kata dia, program Malaria Perdhaki sudah berjalan di tiga daerah, di antaranya Nabire, Dogiyai, dan Paniai. “Nabire ada 5 kampung, Dogiyai 4 kampung, dan Paniai 4 kampung. Syukur, di semua kampung tersebut, program ini sudah berjalan maksimal walau masih ada tantangan,” katanya. Menurutnya, program Malaria Perdhaki mempunyai kerinduan untuk bisa menjangkau semua daerah di seluruh wilayah Meepago. Untuk itu, diharapkan kerja sama dari pelbagai lembaga kesatuan baik pemerintah maupun nonpemerintah yang berada di masing-masing daerah.

“AIDS, TBC, dan malaria adalah tiga penyakit mematikan yang sudah dan sedang menelan ribuan nyawa dari bayi hingga orang dewasa. Untuk itu, mari kita lawan. Semua lembaga, baik pemerintah dan nonpemerintah, kami harap dapat menaruh perhatian demi kelancaran program ini,” harap dia. Suster Apriana Zonggonau, anggota UKBM Ugidimi-Bibida, mengaku program Malaria Perdhaki memberi manfaat besar bagi dirinya dan masyarakat di tempat pelayanannya. “Program ini memberi saya ilmu banyak. Sekarang saya sudah lebih percaya diri untuk merawat dan memberi obat masyarakat saya di sana. Masyarakat yang datang banyak. Tidak seperti dulu,” tutur dia ketika diberi waktu bersaksi terkait program tersebut.

Berita ini dipublish oleh Seputar Papua. Link: https://seputarpapua.com/view/dinkes-mimika-siapkan-kader-malaria-untuk-tiga-distrik.html

Tinggalkan Balasan

id_IDIndonesian

Eksplorasi konten lain dari Program Malaria Perdhaki

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca