Program Malaria Perdhaki

MALARIA PERDHAKI, Keerom – Bupati Keerom, Piter Gusbager, S.Hut, MUP, mengemukakan bahwa mengenyahkan penyakit malaria dari Keerom bukanlah hal yang mudah. Karenanya, ia mengingatkan bahwa semua pihak harus bekerja sama memberantas malaria untuk menuju Elmaripa atau eliminasi malaria di Papua tahun 2027, dan Indonesia bebas malaria tahun 2030.

Bupati Keerom menyampaikan hal ini saat menghadiri acara Mass Blood Survey (MBS) atau pemeriksaan darah massal yang digelar Perdhaki GF-ATM-PPM Tingkat Kabupaten Keerom di Kampung Yanama, Arso PIR I, pada Selasa, 23 November 2021.

“Kami sampaikan apresiasi kepada Perdhaki yang secara konsisten melaksanakan program dan kegiatan pemberantasan penyakit malaria. Posisi API atau angka prevalensi penyakit malaria yang sebelumnya di level 200-an kini turun hingga di angka 120-an, namun kita ingin agar Keerom zero (nol) untuk malaria. Untuk menuju ke sana tentu tak mudah, seluruh pihak harus mendukung upaya-upaya menuju Elmaripa 2027 dan Indonesia bebas malaria 2030,” pesannya.

Bupati Keerom, Piter Gusbager | Foto: Lintas Papua

Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyoroti bahwa buruknya lingkungan membuat nyamuk malaria sulit dienyahkan.

“Untuk enyahkan malaria dari Keerom, maka habitat nyamuk harus kita enyahkan dengan menata lingkungan, drainase, dan lingkungan rumah. HKN tahun ini hendaknya menjadi semangat untuk hidup sehat bagi kita. Maka saya jadikan momentum ini untuk mencanangkan Keerom bebas malaria dimulai dari Kampung Yanama,” ujar Bupati Keerom lebih lanjut.

Pada kegiatan ini, turut hadir Ketua TP-PKK Keerom, Ny. Angela T.H. Frank Gusbager, S.T., Danramil Arso, Mayor Suprapto, Kepala SSR PWK Jayapura I, Agus D., Kepala Dekenat Keerom, Pastor Kris Bidi, SVD, Ketua Panitia Kegiatan, Yonas, Plt. Kepala Kampung Yanama, serta tokoh adat (todat), tokoh masyarakat (tomas), dan warga Kampung Yanama.

Sedangkan Kepala SSR PWK Jayapura I, Agus D., mengemukakan bahwa kegiatan MBS yang digelar selama tiga hari, 23-25 November merupakan momen penting bagi pemberantasan malaria di Kampung Yanama dan Kabupaten Keerom.

“Kegiatan MBS adalah penanganan secara massal penyakit malaria, dengan cara periksa darah secara massal, pengobatan massal bagi yang terkena malaria, dan upaya menjadikan pekarangan kita bebas dari nyamuk malaria. Kita harus buat pekarangan kita bebas nyamuk. Malaria harus enyah dari kampung kita. Kita bersihkan lingkungan, biar nyamuk ini merasa bahwa kampung kita bukan habitat mereka, kabupaten ini bukan habitat mereka sehingga Kampung Yanama bebas malaria, dan Keerom bebas malaria. Akhirnya, Papua dan Indonesia juga bebas malaria,” pesannya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Yonas, mengemukakan bahwa kegiatan malaria digelar di Yanama karena kampung tersebut masuk tiga besar kampung dengan prevalensi malaria tertinggi, sedangkan Keerom termasuk empat besar daerah endemik malaria di Papua setelah Kota Jayapura, Timika, dan Sarmi.

“Kegiatan dua hari awal adalah pengambilan sampel darah massal yang dilayani di tiga pos pemeriksaan MBS. Untuk hari ketiga, tim MBS bakal melakukan kunjungan door to door. Kita juga telah siapkan delapan orang tenaga medis yang terdiri dari tiga dokter, satu perawat, satu bidan, satu analis, dan dua bagian farmasi. Kegiatan penutupan dilakukan pada tanggal 25 November sore hari sekaligus penarikan door prize sumbangan Bupati Keerom,” terangnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan pengambilan sampel darah malaria kepada tamu undangan, termasuk Bupati Keerom, Ketua TP-PKK Keerom, Danramil Arso, dan lainnya. Acara ditutup dengan ramah tamah bersama masyarakat Kampung Yanama.

Artikel ini tayang di lintaspapua.com pada 24 November 2021. Link: https://www.lintaspapua.com/lintas-jayapura/pr-6554378266/dukung-giat-mbsperdhaki-bupati-piter-gusbager-enyahkan-malaria-dari-keerom-drainase-dan-rumah-harus-ditata

Tinggalkan Balasan

id_IDIndonesian

Eksplorasi konten lain dari Program Malaria Perdhaki

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca