Survei Penggunaan Kelambu Malaria di Keerom

Kader Juru Malaria Desa (JMD) berkontribusi dalam pendataan kelambu sebagai bagian dari program Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengevaluasi efektivitas dan penggunaan kelambu yang telah didistribusikan kepada masyarakat di daerah endemis tinggi malaria.

Oleh: Kristmas Tawurutubun, PM SSR Dekenat Keerom-2

MALARIA PERDHAKI–KEEROM. Kader Juru Malaria Desa (JMD) di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, turun langsung ke lapangan untuk melakukan survei kelambu malaria massal dari rumah ke rumah di wilayah Puskesmas Arso Barat. Saat ini, pendataan difokuskan di tiga kampung, yakni Sanggaria, Yamua, dan Dukwia, yang merupakan bagian dari 16 kampung di Kabupaten Keerom.

Dalam waktu tiga hingga empat jam per hari, kader JMD berhasil mendata sekitar 18 kepala keluarga (KK) sehingga data dari lapangan dapat segera dihimpun.

Data yang dikumpulkan meliputi jumlah anggota keluarga, jumlah kelompok tidur dalam keluarga (anggota yang tidur bersama pada satu lokasi tidur baik di tempat tidur ataupun di luar rumah), jumlah kelambu yang diterima saat pembagian kelambu massal sebelumnya, serta kondisi dan penggunaan kelambu. Selain itu, warga juga ditanya mengenai pemahaman dan praktik mereka dalam merawat kelambu.

Survei ini mendapat respons positif. Warga cukup terbuka saat kader malaria datang dan mengapresiasi upaya pendataan ini. Warga juga menyampaikan harapan agar ada pembagian kelambu baru karena sebagian sudah tidak layak pakai lagi.

Survei yang berlangsung dari tanggal 5-15 Oktober 2026 ini melibatkan kader malaria, pendamping kader serta SSR Dekenat Keerom-2. Data dari lapangan langsung dimasukkan ke aplikasi ONA sehingga perkembangan survei dapat dipantau secara langsung.

Survei ini menggunakan teknik simple random sampling, difokuskan ke delapan kabupaten/kota di enam provinsi, yakni: Nusa Tenggara Timur (Sumba Barat Daya), Papua Barat (Manokwari), Papua Barat Daya (Kota Sorong), Papua (Keerom, Kota Jayapura, Kepulauan Yapen), Papua Tengah (Mimika), dan Papua Selatan (Merauke). 

Data ditargetkan terkumpul pada pertengahan Oktober untuk kemudian dianalisis. Hasil analisis tersebut akan dibagikan ke Dinas Kesehatan, puskesmas, dan kader malaria di daerah. Selain itu, hasil analisis juga akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan intervensi kebijakan kesehatan selanjutnya dalam pengendalian malaria.

Leave a Reply

en_USEnglish

Discover more from Malaria Perdhaki

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading