Program Malaria Perdhaki

SOSOK: Pengabdian Tanpa Henti Dominggus Rangga Haghe

MALARIA PERDHAKI-SUMBA BARAT DAYA. Di antara hamparan kampung-kampung di Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, ada satu nama yang begitu akrab di telinga warga ketika berbicara tentang malaria, ia adalah Dominggus Rangga Haghe.

Sejak 1 Juli 2021, ia mengabdikan diri sebagai Juru Malaria Desa (JMD) di wilayah pelayanan Puskesmas Walla Ndimu. Bagi Dominggus, menjadi kader malaria bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk melayani sesama. Dominggus bukan orang baru dalam dunia pelayanan masyarakat. Jauh sebelum bergabung dengan Program Malaria Perdhaki, ia telah terlibat aktif sebagai kader Posyandu selama hampir dua dekade. Ia juga pernah dipercaya memegang tanggung jawab sebagai perangkat desa dan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Pengalaman panjang itu membentuknya menjadi sosok yang telaten, sabar, dan terbiasa mendengar keluhan warga. Ketika kesempatan menjadi kader malaria datang, Dominggus menerimanya dengan keyakinan bahwa ini adalah jalan pengabdian berikutnya.

“Biarkan saya menjadi berarti bagi sesama sekalipun hal kecil yang dilakukan,” ujar Dominggus membuka obrolan siang itu.

Wilayah pelayanan Dominggus mencakup Dusun 2 dan Dusun 3 yang terdiri dari ratusan jiwa tersebar di banyak kampung dengan jarak antar rumah yang tidak selalu dekat. Medan berbukit, jalan tanah, dan minimnya transportasi bukan hal baru baginya. Justru di situlah ketulusan pengabdiannya terlihat. Ia aktif melakukan pemeriksaan malaria dari rumah ke rumah menggunakan RDT. Bila hasilnya positif, ia segera memberikan obat sesuai prosedur dan langsung mengambil peran sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO).

Berdasarkan pembagian wilayah kerja untuk tiga kader di Desa Umbu Ngedo, Dominggus melakukan pelayanan di Dusun 2 dan 3. Dusun 2 dengan Jumlah penduduk 32 KK /163 jiwa yang tersebar di 6 kampung yakni Kodak, Ganggar, Lete Mimih, Kahale Pare, Hamboyo dan Rati Kahi. Dusun 3 terletak di Ghanggo Lelu dengan jumlah penduduk 98 KK/502 jiwa. Penduduknya tersebar pada 11 kampung yaitu Manyela, Manu Ghewa, Guna Hari, Kaduro Paddi, Jama Ghayo, SDI Paghohi, Waipakonda, Tana Kaka, Kadoko, Kahale Watar dan Kahoba Robok.

Bagi Dominggus, tugas belum selesai saat obat diberikan. Ia memahami betul bahwa banyak pasien berhenti minum obat ketika merasa sudah lebih baik. Karena itulah, ia memilih memastikan sendiri obat benar-benar diminum sampai tuntas. Ia datang kembali sesuai jadwal dosis, duduk bersama pasien, menunggu hingga obat ditelan. Pendekatan ini bukan hanya soal kedisiplinan pengobatan, tetapi juga membangun rasa percaya antara kader dan warga.

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi di awal masa tugasnya pada 2021 di Kampung Tana Kaka. Saat itu ditemukan tujuh kasus malaria dari dua keluarga. Tanpa menunda waktu, Dominggus mulai mendampingi pengobatan setiap hari. Setiap sore sekitar pukul 16.00 WITA, ia berjalan kaki kurang lebih satu kilometer menyusuri jalan kampung, dari satu rumah ke rumah lain. Ia menyapa pasien, memastikan kondisi mereka membaik, lalu memberikan obat langsung ke mulut pasien untuk memastikan dosis tidak terlewat. Upaya sederhana namun konsisten itu membuahkan hasil besar: hingga awal 2026, kampung tersebut tidak lagi mencatat kasus malaria baru.

Dedikasinya kembali diuji pada November 2025 ketika sebelas kasus malaria ditemukan di Kampung Rati Kahi dan Hamboyo. Semua kasus memang terdeteksi melalui pemeriksaan di puskesmas, tetapi tanggung jawab pengawasan minum obat berada di tangan Dominggus karena kedua kampung tersebut masuk wilayah pelayanannya. Tanpa kendaraan bermotor, ia mengatur jadwal kunjungan dengan disiplin: pagi, sore, hingga malam hari. Untuk pasien falciparum ia mendampingi pengobatan selama tiga hari, sementara pasien vivax ia pantau hingga 14 hari, lengkap dengan pengingat jadwal kontrol lanjutan.

Ada malam-malam ketika hujan turun deras dan angin berembus kencang, namun itu tidak menghentikan langkahnya. Berbekal payung, Dominggus tetap berjalan kaki hingga jarak terjauh sekitar satu setengah kilometer. Baginya, melewatkan satu dosis obat bisa berarti risiko kambuh atau penularan lanjutan. Ketekunan itulah yang membuat pasien patuh berobat dan peluang kesembuhan semakin besar.

Yohanes Handry Tadeus Rina sebagai Pengelola Malaria Puskesmas Walla Ndimu, berdekap kagum. Beliau sangat mengapresiasi pola kerja Dominggus yang nyata-nyata memastikan pasien minum obat dan sembuh.

“Apa yang dilakukan oleh Pak Dominggus tentu menjadi inspirasi kerja nyata di lapangan dalam penanganan malaria,” kata Yohanes.

Di mata warga, Dominggus bukan sekadar petugas kesehatan, melainkan saudara yang selalu siap datang ketika dibutuhkan. Nomor teleponnya dibagikan ke banyak keluarga. Ketika ada yang demam atau menggigil di malam hari, ia tak segan mendatangi rumah pasien untuk melakukan pemeriksaan.

Meski tugasnya tidak ringan, Dominggus menjalani semuanya dengan rasa bangga. Ia merasa terhormat bisa melayani warga di tanah kelahirannya sendiri dan menjadi bagian dari Program Malaria Perdhaki yang bekerja langsung bersama masyarakat.

Baginya, setiap pasien yang sembuh adalah kebahagiaan tersendiri. Ia berharap suatu saat Desa Umbu Ngedo benar-benar terbebas dari malaria, didukung oleh kebijakan desa, pendanaan yang memadai, dan kesadaran warga untuk menjaga kesehatan lingkungan.

Di balik langkah-langkah jauhnya menyusuri kampung, Dominggus memegang satu semboyan hidup yang sederhana namun penuh makna: ingin menjadi pribadi yang berarti bagi sesama, meski melalui hal-hal kecil. Dari jalan setapak desa hingga pintu-pintu rumah warga, pengabdian itu terus ia jalani secara perlahan, setia dan tanpa banyak suara, demi masa depan yang lebih sehat bagi desanya. (Program Manager SSR SSR PWK Weetabula Matheus Antonius Krivo)

Leave a Reply

en_USEnglish

Discover more from Program Malaria Perdhaki

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading