Program Malaria Perdhaki

Sosok: Kisah Sarah Oropa Gencarkan Edukasi Malaria di Distrik Momi Waren

MALARIA PERDHAKI, Jakarta – Matahari menggantung tepat di atas kepala, membakar atap-atap seng yang memantulkan panas ke segala penjuru. Jalanan tanah itu semakin kering dan berdebu.

Di tengah panas yang mengeringkan tengkuk itu, Sarah Oropa-wanita berusia 40 tahun- memantapkan langkahnya sembari sesekali membenarkan letak ransel di punggungnya dan menyeka keringat dikeningnya.

Sarah yang merupakan seorang Kader Malaria ini menyusuri satu per satu rumah di Kampung Gaya Baru, Distrik omi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan.

Baginya, siang hari bukan alasan untuk berhenti. Panas hanyalah satu dari sekian banyak ujian yang telah akrab dengannya selama bertahun-tahun. Di tempat ini, pengabdian tak mengenal jam kerja, hanya mengenal kebutuhan dan panggilan hati.

Peran sebagai Kader Malaria diemban Sarah dengan sungguh. Ia bukan hanya seorang pelayan Kesehatan, ia adalah harapan sekaligus teman bicara bagi masyarakat.

Kisah Sarah Oropa dimulai pada tahun 2021 silam. Kepedulian pada Kesehatan masyarakat khususnya ibu-ibu dan anak-anak mendorong Sarah ikut serta mengikuti Pelatihan Kader Malaria di Hotel Srikandi Kabupaten Manokwari Selatan. Pelatihan ini meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menganalisis faktor resiko yang ada dikampung, memahami apa itu malaria secara keseluruhan seperti apa itu malaria? penularan malaria, penyebab malaria, gejala malaria, pengobatan dan bagaimana mencegah malaria. selain itu diberikan ketrampilan bagaimana menggunakan RDT (Rapid Diagnosa Test) untuk menemukan kasus malaria di kampungnya dan juga bagaiamana mengobati warga yang terpapar malaria.

Secara manusiawi, menjadi pelayan kesehatan bukanlah hal yang mudah, terlebih bagi seseorang yang belum pernah mendapatkan pelatihan mendalam di bidang medis. Namun, bagi Sarah, ini bukan semata soal keterampilan. Ini adalah panggilan hati: mengasihi tanpa batas. Sebagai seorang ibu dari empat anak, ia memilih terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan masyarakat di kampungnya, meskipun harus memulai dari titik nol.

“Memang sulit di awal,” ungkap Wanita yang akrab disapa Kaka Sarah ini.

“Apalagi saat belum terbiasa melakukan pemeriksaan dan sempat ditolak oleh masyarakat,” lanjut Kaka Sarah.

Namun waktu terus berjalan. Dengan komitmen kuat dan niat tulus, Kaka Sarah perlahan menepis keraguan warga. Ia belajar, bertanya, mencoba, dan terus hadir meski tak selalu disambut hangat. Upayanya tidak sia-sia, kesadaran warga akan bahaya malaria mulai tumbuh. Mereka mulai memahami bahwa penyakit ini bukan hal sepele, melainkan ancaman nyata yang bisa merenggut nyawa jika tidak ditangani segera.

Dukungan dari kepala kampung dan para tokoh masyarakat semakin memperkuat posisi Kaka Sarah. Kepercayaan yang dibangun dengan kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Kini, warga menyebutnya dengan panggilan hangat: Suster Kampung. Sebuah gelar yang tidak ia minta, tapi lahir dari ketulusan dan dedikasi.

Warga yang merasa sakit atau mengalami gejala malaria kini datang langsung ke rumahnya untuk diperiksa. Rumahnya menjadi tempat berteduh, tempat konsultasi, sekaligus simbol harapan. Tanggung jawab itu besar, namun bagi Kaka Sarah, semuanya bermuara pada satu tujuan: mewujudkan Kampung Gaya Baru yang bebas dari malaria.

Mengasihi tanpa batas bukan sekadar kata-kata indah, melainkan panggilan untuk bertindak nyata. Dalam setiap langkah pelayanan kepada warga, kasih menjadi dasar dan semangat yang menggerakkan. Melayani bukan hanya soal memberi bantuan, tetapi tentang menghadirkan kehadiran yang tulus, hati yang mau mendengar, tangan yang mau menolong, dan sikap yang mau memahami.


Setiap warga memiliki cerita, kebutuhan, dan pergumulan yang berbeda. Ada yang membutuhkan bantuan materi, ada yang butuh perhatian, dan ada pula yang hanya ingin didengarkan. Di sinilah makna kasih tanpa batas diuji, ketika kita belajar melihat setiap orang sebagai pribadi yang berharga, tanpa memandang latar belakang, status, atau perbedaan.

Melayani warga dengan kasih tanpa batas berarti menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Itu berarti bekerja dengan hati, bukan sekadar menjalankan tugas. Ketika pelayanan dilakukan dengan kasih, maka setiap tindakan kecil pun memiliki arti besar: sebuah senyum, sapaan hangat, atau sekadar kehadiran bisa menjadi penghiburan yang luar biasa.

Kasih yang sejati tidak berhenti pada batas waktu atau tenaga. Ia terus mengalir, memberi semangat untuk berbuat lebih, dan menumbuhkan harapan di tengah masyarakat. Dengan mengasihi tanpa batas, kita membangun komunitas yang saling menopang, saling menghargai, dan tumbuh bersama dalam kebaikan.

Melayani warga bukan sekadar pekerjaan, melainkan wujud nyata dari kasih yang hidup, kasih yang tidak mengenal lelah, tidak mencari imbalan, dan tidak mengenal batas.

Artikel di atas disadur dari https://ngungguen.blogspot.com/2025/10/kisah-kk-sarah-oropa-kader-malaria.html

Penulis/Kontributor: Program Manager SSR Perdu, Johnsen F Pattipawaej
Penyunting: Tim Komunikasi & Informasi Malaria Perdhaki

Leave a Reply

en_USEnglish

Discover more from Program Malaria Perdhaki

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading