Bangun Budaya Keselamatan Kerja, PERDHAKI Bekali Staf dengan Pelatihan Kegawatdaruratan

MALARIA PERDHAKI–JAKARTA. Kantor Pusat Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDHAKI) menggelar “Pelatihan Kegawatdaruratan di Tempat Kerja” pada 14 Oktober 2026 di Jakarta. Agenda ini ditujukan untuk memperkuat budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sekaligus membekali personel organisasi menghadapi berbagai skenario krisis.

Pelatihan dirancang responsif terhadap ancaman kekinian, mulai dari potensi gempa bumi akibat aktivitas megathrust hingga sengatan gelombang panas ekstrem dari perubahan iklim.

Upaya menuju target zero accident sejatinya mulai marak di sektor manufaktur yang akrab dengan risiko mesin berat. Di lingkungan pabrik, misalnya, ketersediaan petugas keamanan yang menguasai dasar Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) kerap menjadi garis pertahanan utama dalam menjamin keselamatan pekerja.

Namun, risiko ini tak lagi terbatas di area pabrik saja. Ancaman guncangan gempa, kebakaran gedung perkantoran, hingga sengatan panas membayangi siapa saja, termasuk pekerja lapangan seperti pengemudi ojek online maupun warga yang beraktivitas di ruang terbuka, seperti pelari maraton. Keterampilan pertolongan darurat pun menjadi krusial, baik di area kerja maupun di ruang publik.

Direktur Eksekutif PERDHAKI, Dr. dr. Yosephin Sri Sutanti, MS., Sp.Ok(K), yang memimpin langsung pelatihan ini, memaparkan penanganan medis darurat yang mencakup antara lain penanganan trauma benturan, luka bakar, hingga hipotermia serta paparan suhu ekstrem.

Dua orang sedang berlatih CPR dengan manekin resusitasi di atas rumput sintetis.

Meskipun penyebab pasti seseorang mendadak pingsan atau terluka mungkin belum diketahui seketika, namun tindakan di menit-menit awal bisa menjadi penentu hidup-mati korban. Respons cepat dari orang terdekat di lokasi kejadian sangat menentukan sebelum tim medis atau ambulans tiba.

Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga menjalani simulasi dan praktik lapangan dengan standar penanganan terstruktur. Sesi praktik meliputi Bantuan Hidup Dasar (BHD), yakni kompresi dada manual untuk menjaga aliran darah dan oksigen saat terjadi henti jantung, serta pembidaian (splinting), yakni pertolongan pertama pada pendarahan berat dan dugaan patah tulang guna mencegah kerusakan jaringan yang lebih parah.

Jika terjadi kecelakaan atau situasi darurat medis, segera hubungi 112 melalui ponsel. Petugas akan memberikan panduan pertolongan pertama secara langsung serta memobilisasi tim medis ke lokasi kejadian.

Sebagai tindak lanjut, PERDHAKI mewajibkan seluruh staf mencatat setiap insiden kedaruratan yang ditangani ke dalam laporan tahunan organisasi. Rekam jejak ini berfungsi sebagai basis data untuk memetakan kapasitas serta kesiapsiagaan internal sebagai bahan evaluasi demi meningkatkan standar keselamatan di masa depan.

Ini merupakan upaya untuk memastikan lingkungan kerja tak hanya produktif tetapi juga tangguh menghadapi krisis.

Tinggalkan Balasan

id_IDIndonesian

Eksplorasi konten lain dari Malaria Perdhaki

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca