Mengintai dari Genangan Tambang: Mencegah Ancaman Malaria bagi Pekerja dan Warga

Kegiatan pertambangan yang mengabaikan kelestarian lingkungan dapat meningkatkan risiko penularan malaria pada pekerja hingga meluas ke pemukiman warga. Lubang bekas galian, kolam limbah (tailing), dan drainase tersumbat menciptakan genangan air yang kemudian menjadi tempat ideal bagi pembiakan nyamuk Anopheles, vektor utama malaria. Tingginya mobilitas pekerja tambang juga mempercepat penyebaran penyakit ini.
Contohnya, di Gorontalo, Dinas Kesehatan mencatat sekitar 1.027 orang terpapar malaria yang tersebar di 13 kecamatan di Pohuwato yang didominasi pekerja tambang usia produktif, seperti yang dilaporkan Mongabay. Pemerintah telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) dan tanggap darurat bencana non-alam.
Sementara di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, terdata 788 kasus malaria sepanjang 2026 akibat genangan bekas galian bauksit, Teras.id melaporkan, yang akhirnya berhasil menekan kasus melalui penanganan medis dan intervensi lingkungan, termasuk seperti menyebarkan ikan pemakan jentik nyamuk.
Kasus serupa terjadi di Aceh Jaya, di mana penularan di klaster pertambangan melonjak dari 30 kasus pada Mei, 56 kasus pada Juli, hingga mencapai 76 kasus pada September 2026, seperti dikutip dari Antara.
Dampak pertambangan terhadap penyebaran malaria diperkuat oleh berbagai penelitian. Studi di Amazon menunjukkan bahwa genangan limbah tambang menjadi habitat optimal larva yang mempercepat siklus perkembangbiakan nyamuk. Di Ghana, kolam buatan akibat aktivitas tambang meningkatkan risiko infeksi malaria sebesar 2,9 kali lipat, sementara anak-anak yang tinggal dalam radius 25 meter dari area tambang berisiko 4,6 kali lebih tinggi tertular.
Guna memutus rantai penularan, pemerintah daerah dan puskesmas gencar melakukan pelacakan serta penanganan dini bagi pekerja tambang dan keluarganya. Namun, penanganan yang efektif memerlukan kolaborasi dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menimbun kubangan bekas galian. Tanpa pemulihan bekas galian tambang, risiko lonjakan kasus akan tetap ada.
Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar area hutan dan tambang juga diimbau selalu waspada. Meskipun nyamuk Anopheles aktif pada sore hingga malam hari, risiko gigitan tetap ada pada siang hari. Langkah pencegahan dapat dilakukan dengan mengenakan pakaian tertutup, menggunakan losion anti nyamuk, memasang kasa pada ventilasi rumah, serta menggunakan kelambu berinsektisida saat tidur. Jika timbul gejala demam setelah berada di daerah endemis malaria, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
(Foto oleh Roman Rezor di Unsplash)