Program Malaria Perdhaki

Sumba Barat Daya Perkuat Kolaborasi, Targetkan Penurunan API di Bawah 1 pada 2026

Sumba Barat Daya Perkuat Kolaborasi, Targetkan Penurunan API di Bawah 1 pada 2026
Sumba Barat Daya Perkuat Kolaborasi, Targetkan Penurunan API di Bawah 1 pada 2026

MALARIA PERDHAKI-Tambolaka. Kabupaten Sumba Barat Daya hingga tahun 2025 masih menjadi satu-satunya kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berada pada kategori endemis tinggi malaria.

Berdasarkan peta endemisitas Provinsi NTT Tahun 2025, Annual Paracite Incidence (API) Kabupaten Sumba Barat Daya tercatat sebesar 6,19 dengan Annual Blood Examination Rate (ABER) 96,8, jumlah kasus ditemukan sebanyak 2.049 dan positivity rate 0,64.

ABER sendiri merupakan indikator dalam program malaria yang menunjukkan persentase penduduk yang diperiksa darahnya untuk malaria dalam satu tahun.

Meski demikian, capaian penanganan malaria tahun 2025 menunjukkan kemajuan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, API masih berada pada angka 15,64 dengan jumlah kasus mencapai 5.474 dan positivity rate 3,01. Penurunan ini menjadi bukti bahwa penguatan kolaborasi lintas sektor dan pendekatan berbasis masyarakat mulai memberikan dampak nyata.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya, drg. Yulianus Kaleka, menegaskan harapan agar API malaria dapat ditekan hingga di bawah angka 1 pada tahun 2026. Target ini disambut optimis oleh para mitra.

Program Manager SSR PWK Weetebula, Matheus Antonius Krivo optimistis target tersebut dapat terealisasi.

“Praktek baik yang telah dimulai pada tahun 2025, akan terus diperkuat dan meluas pada tahun 2026, sehingga aksi-aksi penanganan dapat berdampak pada penurunan kasus secara signifikan,” ungkap Matheus dikutip, Senin (19/1).

Matheus juga menyampaikan bahwa Program Malaria Perdhaki terus melakukan kegiatan-kegiatan penguatan masyarakat melalui diskusi kampung, pertemuan koordinasi tingkat desa dan pembentukan forum kerja eliminasi malaria desa, advokasi peraturan desa tentang Penanggulangan Aids, Tuberculosis dan Malaria.

Selain itu, melalui peraturan desa dimungkinkan keterlibatan semua unsur dalam desa dan adanya dukungan dana desa bagi kegiatan malaria berkelanjutan. Kegiatan rutin yang terus dilakukan untuk penguatan kader dan pendamping kader melalui kegiatan supervisi rutin, monitoring dan evaluasi.

Kemajuan eliminasi malaria tersebut tidak terlepas dari kemitraan erat antara Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya, Program Malaria Perdhaki melalui SSR, serta UNICEF. Kolaborasi ini memungkinkan pemeriksaan dan penemuan kasus berjalan lebih optimal, baik melalui Rapid Diagnostic Test (RDT) yang dilakukan oleh kader malaria maupun pemeriksaan mikroskopis oleh tenaga kesehatan puskesmas. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 55,77 persen pemeriksaan dilakukan menggunakan RDT dan 44,23 persen melalui mikroskop, sementara penemuan kasus didominasi oleh pemeriksaan mikroskop sebesar 85 persen.

Selain penemuan kasus, upaya penyelidikan epidemiologi dan survei kontak dilakukan dalam rentang waktu 1×24 jam, disertai pemantauan minum obat secara melekat oleh tenaga kesehatan dan kader malaria. Dari sisi pencegahan, Dinas Kesehatan bersama kader malaria berhasil mendistribusikan 205.700 unit kelambu LLIN dan melakukan larvasidasi di desa-desa potensial malaria.

Salah satu praktik baik yang berkembang adalah pelibatan kader malaria Perdhaki dalam pengambilan sediaan darah tebal. Kader yang telah dilatih oleh analis puskesmas tetap mengambil sampel darah menggunakan slide pada tersangka malaria dengan hasil RDT negatif, untuk kemudian diperiksa lebih lanjut melalui mikroskop di puskesmas. Praktik ini terbukti meningkatkan akurasi penemuan kasus.

Berbagai capaian dan tantangan tersebut menjadi dasar pelaksanaan Pertemuan Koordinasi Awal Tahun yang digelar oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya bersama UNICEF dan SSR Program Malaria Perdhaki pada Rabu, 15 Januari 2026, bertempat di ruang kerja Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya. Pertemuan ini dihadiri oleh pimpinan Dinas Kesehatan, pengelola program malaria, perwakilan SSR Perdhaki, serta konsultan UNICEF.

Dalam pertemuan tersebut, disepakati sejumlah isu strategis untuk ditindaklanjuti pada tahun 2026, antara lain peningkatan intensitas pemeriksaan malaria oleh tenaga kesehatan, ketersediaan slide darah tebal, penguatan pemantauan minum obat hingga tuntas, serta optimalisasi follow up kasus yang pada tahun 2025 baru mencapai 52 persen. Hal ini menjadi krusial mengingat mayoritas kasus yang ditemukan adalah Malaria Vivax (47 persen) dan Falciparum (45 persen).

UNICEF melalui konsultan malaria juga mendorong penguatan intervensi lapangan, khususnya pelaksanaan larvasidasi secara periodik dan serentak di desa-desa potensial yang direncanakan mulai Februari hingga Maret 2026.

Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk melangkah maju di tahun 2026 dengan semangat kolaborasi dan kerja bersama. Sejalan dengan spirit Malaria Perdhaki, seluruh pihak sepakat bahwa eliminasi malaria hanya dapat dicapai melalui sinergi, keterlibatan masyarakat, dan kerja berkelanjutan demi Kabupaten Sumba Barat Daya yang bebas malaria.

One thought on “Sumba Barat Daya Perkuat Kolaborasi, Targetkan Penurunan API di Bawah 1 pada 2026

  1. Sangat mengapresiasi komitmen bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya, UNICEF, dan SSR Program Malaria Perdhaki dalam menyusun langkah-langkah strategis yang jelas dan terarah untuk penanggulangan malaria tahun 2026. Kolaborasi yang solid serta perhatian pada berbagai aspek kunci seperti pemeriksaan, ketersediaan alat, pemantauan obat, dan intervensi lapangan menjadi bukti nyata komitmen untuk mewujudkan kabupaten yang bebas malaria!

Tinggalkan Balasan

id_IDIndonesian

Eksplorasi konten lain dari Program Malaria Perdhaki

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca