Program Malaria Perdhaki

Guru Bangkit Melawan Malaria: Pelita dari Ruang Kelas di Timur Indonesia

Emanuel Yarsy Burung, Guru Penggerak Eliminasi Malaria (PEM) SMP N 7 Yetti, Puskesmas Pitewi (dok: SSR Keerom-2)
Emanuel Yarsy Burung, Guru Penggerak Eliminasi Malaria (PEM) SMP N 7 Yetti, Puskesmas Pitewi (dok: SSR Keerom-2)

MALARIA PERDHAKI – KEEROM. Di banyak tempat, guru dikenal sebagai pelita ilmu. Namun di Kabupaten Keerom, peran itu meluas menjadi sesuatu yang lebih besar: para guru menjadi garda terdepan dalam upaya menghapus malaria dari lingkungan sekolah dan kehidupan anak-anak didik mereka.

Setiap hari, setelah mengajar membaca, menulis dan berhitung, guru-guru Penggerak Eliminasi Malaria (PEM) menambah satu lagi pelajaran penting yaitu cara mencegah malaria. Dari ruang kelas hingga halaman sekolah, mereka memimpin aksi bersih lingkungan, memandu siswa mengenali gejala malaria, hingga memperkenalkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Bagi Kristin Wahyu Agustina, Guru PEM di SD Inpres 2 Arso 1, tugas ini adalah perjalanan yang penuh makna.

“Ada suka dukanya, tapi lebih banyak sukanya. Saya dapat banyak pengalaman dan anak-anak juga dapat ilmu tentang malaria. Mereka jadi tahu bagaimana menjaga diri supaya tidak sakit,” ujar Kristin dengan senyum merekah.

Setiap pekan, Kristin membimbing murid-muridnya menjaga kebersihan kelas, memeriksa genangan air dan memastikan semua memahami pentingnya tidur memakai kelambu. Tantangan ada, beberapa siswa harus dibujuk untuk mau diperiksa. Namun, semangatnya tidak pernah surut.

Baginya, menjadi Guru PEM bukan sekadar tambahan tugas, tetapi panggilan hati untuk melindungi generasi muda dari penyakit yang bisa dicegah.

Kristin Wahyu Agustina, Guru Penggerak Eliminasi Malaria (PEM) SD INPRES 2 Arso 1, Puskesmas Arso Barat (dok SSR Keerom-2)
Kristin Wahyu Agustina, Guru Penggerak Eliminasi Malaria (PEM) SD INPRES 2 Arso 1, Puskesmas Arso Barat (dok SSR Keerom-2)

Di sekolah lain, Emanuel Yarsy Burung, guru SMP Negeri 7 Yetti, membagikan kisah serupa.

Lebih dari dua tahun ia menjalankan peran sebagai Guru PEM, dan setiap perjalanan memberi pelajaran baru.

“Saya dapat pengetahuan tambahan sebagai guru, bagaimana memeriksa siswa, memberi pengobatan, sampai mengedukasi mereka. Anak-anak sangat antusias karena pemeriksaannya gratis dan mereka ingin sehat,” tuturnya.

Antusiasme itu membuat Emanuel harus pandai mengatur kelas.

“Kadang dari 30 siswa, semuanya ingin diperiksa duluan,” katanya sembari tertawa. Tapi baginya, itu tanda bahwa edukasi kesehatan telah benar-benar menyentuh kesadaran siswa.

Dari diskusi kelas yang rutin diadakan, Emanuel mulai melihat perubahan perilaku. Siswa semakin aktif membersihkan sekolah, mengumpulkan kaleng dan sampah yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk. “Ini bagian dari upaya mencegah perindukan nyamuk. Siswa jadi lebih peduli,” jelasnya.

Memperingati Hari Guru Nasional, kedua guru ini sepakat bahwa tugas mendidik hari ini bukan hanya soal nilai akademis, tetapi juga menjaga kesehatan dan masa depan siswa.

“Harapan saya, dengan adanya guru PEM, siswa-siswi tidak sakit malaria dan program ini berjalan sampai eliminasi tercapai,” kata Kristin.

Senada dengan itu, Emanuel menutup dengan optimisme.

“Kami membimbing siswa agar peduli kebersihan dan tidak sakit malaria. Tujuan kami jelas: bagaimana malaria bisa tereliminasi tahun 2030,” tegasnya.

Di tangan guru-guru seperti mereka, pendidikan tidak hanya membangun masa depan—tetapi juga melindunginya dari malaria. Dan di momentum Hari Guru Nasional ini, peran heroik itu layak diberi hormat.

Asal tahu saja, Program Malaria Perdhaki menempatkan penggerakan masyarakat sebagai strategi kunci percepatan eliminasi malaria di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Melalui strategi ini, Perdhaki mengajak berbagai kelompok, mulai dari komunitas lokal, lembaga adat, sekolah, NGO hingga pemerintah untuk terlibat aktif dalam upaya eliminasi malaria.

Dari antara semua elemen masyarakat, sekolah memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Guru, siswa, dan orang tua menjadi kekuatan utama dalam membangun lingkungan sekolah yang sehat dan bebas malaria. Karena itu, Perdhaki mengembangkan inovasi Guru Penggerak Eliminasi Malaria.

Guru PEM dipilih berdasarkan kompetensi, kepemimpinan, dan inovasi. Peran para guru ini tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi edukasi malaria, melatih rekan guru serta mendorong program pencegahan malaria di sekolah. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari strategi Penggerakan Masyarakat, sekaligus memastikan lembaga pendidikan turut berkontribusi secara massif dan berkelanjutan dalam upaya eliminasi malaria. (Kristmas Tawurutubun/PM SSR Dekenat Keerom-2)

Tinggalkan Balasan

id_IDIndonesian

Eksplorasi konten lain dari Program Malaria Perdhaki

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca