MALARIA PERDHAKI, Manokwari – Sebanyak 45 peserta yang terdiri dari aparat kampung, tokoh masyarakat, lurah, dan RT serta perwakilan Dinas Kesehatan mengikuti pelatihan “Strategi Komunikasi, Perubahan Perilaku, dan Penggerakan Masyarakat bagi Tokoh Kunci” yang dilaksanakan oleh Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) Sub Recipient (SR) Yayasan Tifa Mandiri (Yatima) selama 4 hari di Manokwari.
Agustinus W. Prasetyo selaku SSR Trafesia Kabupaten Teluk Wondama Program Malaria Perdhaki yang menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut melibatkan peserta dari 5 kabupaten di Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya. Tujuannya untuk membekali peserta dengan meningkatkan kapasitas tokoh kunci dalam kegiatan advokasi.
Advokasi tersebut seperti memberikan pemahaman tentang prinsip-prinsip advokasi, strategi dan taktik advokasi yang efektif, serta komunikasi dan penggerakan masyarakat.

“Harapannya teman-teman yang ada di kampung ini dapat berkomunikasi dan menggerakkan masyarakat dalam mendorong program malaria di kampung serta mendapat dukungan dari Kepala Kampung,” ujar Agustinus, Rabu, 21 Agustus 2024.
Agustinus menjelaskan strategi program yang diberikan adalah dengan advokasi, komunikasi perubahan perilaku, dan pemberdayaan masyarakat yang diharapkan mendapat dukungan kebijakan serta membangun kesadaran kritis masyarakat, sehingga diharapkan terjadi perubahan perilaku masyarakat di tingkat kampung.
“Dengan adanya dukungan seluruh masyarakat tentu pelaksanaan program malaria akan bisa dijalankan dengan baik dan mencapai target yang diharapkan, yaitu eliminasi malaria,” kata Agus menambahkan. Ia juga mengatakan di akhir kegiatan nantinya peserta akan melakukan praktik langsung di salah satu kampung di Distrik Manokwari Utara. Di sana mereka akan melihat potensi penularan malaria yang terjadi di kampung kemudian menyusun rencana strategi tindak lanjut hasil yang ditemukan di lapangan.
Tidak hanya itu, usai pelatihan tersebut pihaknya juga akan melakukan pendampingan dengan mendorong pembentukan tim malaria di level kampung serta mendorong terbitnya peraturan/regulasi kampung terkait malaria sehingga bisa memaksimalkan pelaksanaan program malaria di tingkat kampung. “Kami ada kegiatan diskusi kampung untuk mengedukasi masyarakat tentang pencegahan malaria sekaligus monitoring kegiatan malaria di kampung, dan setelah kegiatan ini harapannya juga akan terbentuk tim-tim kerja yang ada di kampung yang bisa dimonitoring oleh Kepala Kampung dan Baperkam,” katanya lagi.
Sementara itu, Koordinator Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Kabupaten Manokwari, Ronny Kilala, mengatakan sejauh ini pihaknya telah melakukan edukasi dan sosialisasi tentang malaria yang menjadi penyakit mematikan di Tanah Papua kepada Kepala Kampung di Manokwari. Hampir di seluruh kampung telah menganggarkan biaya dari dana desa untuk melakukan tindak pencegahan seperti penyemprotan untuk pencegahan bibit nyamuk malaria dan pemberian insentif untuk menunjang kegiatan kader malaria.
Disinggung terkait kendala, Ronny mengatakan sejauh ini pihaknya tidak mengalami kendala di lapangan, khususnya dalam program malaria. Pasalnya, sebagai pendamping desa, pihaknya telah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya dana desa untuk dianggarkan bagi pencegahan malaria guna menjauhkan masyarakat dari bahaya penyakit malaria, sehingga seluruh kampung di Manokwari telah menganggarkan dari dana desa yang diterima. “Kami sebagai pendamping desa telah menjelaskan kepada masyarakat tentang akibat fatal penyakit malaria seperti apa sehingga penting dianggarkan dari dana desa untuk pencegahan. Di tahun 2023, seluruh kampung sudah menganggarkan dari dana desa. Kami juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan UNICEF terkait program malaria, dan terkadang meminta data mereka sebagai bahan acuan kami mengambil kebijakan di tingkat kampung,” ujar Ronny.
Berita ini sudah publish di RRI. Link: https://www.rri.co.id/kesehatan/918692/dukungan-kepala-kampung-dan-masyarakat-kunci-sukses-eliminasi-malaria