{"id":4408,"date":"2026-10-23T15:15:30","date_gmt":"2026-10-23T08:15:30","guid":{"rendered":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/?p=4408"},"modified":"2026-10-23T15:24:01","modified_gmt":"2026-10-23T08:24:01","slug":"mengikis-stigma-untuk-mengobati-hiv-tb-dan-malaria","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/2026\/10\/23\/mengikis-stigma-untuk-mengobati-hiv-tb-dan-malaria\/","title":{"rendered":"Mengikis Stigma untuk Mengobati HIV, TB, dan Malaria"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Obat untuk HIV, tuberkulosis (TB), dan malaria sudah tersedia dan bisa didapat gratis di fasilitas kesehatan. Lalu, mengapa masih banyak yang terlambat berobat? Penghalangnya sering kali bukan urusan medis, melainkan stigma.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Stigma tidak harus berupa hinaan terang-terangan. Cukup merasa dipandang negatif atau khawatir diperlakukan buruk, seseorang bisa menunda periksa berbulan-bulan hingga penyakitnya terlambat ditangani. Stigma juga bisa tertanam di diri sendiri, ketika pasien percaya bahwa ia memang pantas malu, bersalah, bahkan tak layak dilayani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti dikutip dari Petunjuk Teknis Penghapusan Stigma dan Diskriminasi oleh Kementerian Kesehatan RI, banyak ketakutan ini berakar pada salah paham. HIV, misalnya, dianggap menular lewat sentuhan, alat makan, toilet, atau gigitan nyamuk. Padahal, HIV hanya menular melalui darah, cairan seksual, dan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Dengan ARV teratur, orang dengan HIV bisa hidup sehat dan produktif. Bila virusnya sudah tidak terdeteksi, ia tidak menularkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">TB kerap dikira penyakit keturunan, kutukan, atau guna-guna. Faktanya, TB disebabkan bakteri <em>Mycobacterium tuberculosis<\/em> dan dapat disembuhkan dengan pengobatan sesuai standar. Risiko penularannya pun menurun cepat setelah pengobatan efektif dijalani teratur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malaria juga sering disangka menular lewat kontak sehari-hari, udara, atau alat makan. Kenyataannya, malaria ditularkan nyamuk <em>Anopheles<\/em> betina pembawa parasit, serta secara terbatas lewat transfusi darah dan dari ibu ke janin. Di wilayah bebas malaria pun, kasus bisa muncul dari orang yang baru bepergian dari daerah endemis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah paham berlanjut saat pengobatan berjalan. Batuk atau demam yang hilang bukan tanda boleh berhenti minum obat. Obat harus dihabiskan agar penyakit tidak kambuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kekeliruan yang terus diulang tanpa koreksi lama-lama dianggap wajar. Inilah yang disebut normalisasi. Di fasilitas kesehatan, bentuknya kerap tampak sepele: sarung tangan ganda atau masker untuk pasien HIV tanpa indikasi medis, menyebut pasien dengan label penyakit, membicarakan diagnosis di ruang terbuka, atau memarahi pasien yang terlambat kontrol. Normalisasi juga melekat pada prosedur, seperti kode khusus di map dan kartu pasien atau \u201cruang HIV\/TB\u201d yang mudah dikenali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di rumah, batuk atau demam yang berlangsung lama dianggap biasa, lalu diobati sendiri dengan obat sisa atau obat warung. Padahal, keluhan ini bisa jadi gejala TB atau malaria yang perlu segera diperiksa ke puskesmas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabar baiknya, stigma bisa dikikis lewat kebiasaan sehari-hari. Di ruang periksa, petugas cukup memanggil pasien dengan namanya, bukan kode atau nama penyakit. Diagnosis dibicarakan di ruang tertutup, dan sarung tangan atau masker dipakai sesuai indikasi, seperti pada pasien lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keluarga juga berperan besar. Pasien TB harus minum obat setiap hari selama berbulan-bulan, sementara orang dengan HIV minum ARV seumur hidup. Tanpa pendamping, pengobatan panjang ini mudah terputus. Menyembunyikan diagnosis justru membuat pasien menjalaninya sendirian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi masyarakat, langkah awalnya adalah mencari informasi dari tenaga kesehatan, bukan dari kabar mulut ke mulut. Makin dini penyakit ditangani, makin besar peluang untuk pulih.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">HIV, TB, dan malaria kini bisa dikendalikan, bahkan TB dan malaria bisa disembuhkan. Yang masih perlu dibenahi adalah cara kita memperlakukan orang yang sakit. Sapaan yang ramah dan sikap yang tidak menghakimi seringkali menjadi alasan seseorang berani datang berobat, lalu bertahan sampai pengobatannya tuntas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca lebih banyak mengenai stigma sosial dan penangannya:<br><a href=\"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/2026\/10\/12\/memahami-akar-dan-siklus-stigma-hiv-tb-dan-malaria\/\"><strong><span style=\"text-decoration: underline;\">Understanding the Roots and Cycle of Stigma Around HIV, TB, and Malaria<\/span><\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(Photo by <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/silhouette-of-people-raising-hands-during-golden-hour-1222949\/\">Min An<\/a> dari Pexels.)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Obat untuk HIV, tuberkulosis (TB), dan malaria sudah tersedia dan bisa didapat gratis di fasilitas kesehatan. Lalu, mengapa masih banyak yang terlambat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":262829457,"featured_media":4411,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"advanced_seo_description":"Mengikis Stigma untuk Mengobati HIV, TB, dan Malaria","jetpack_seo_html_title":"Mengikis Stigma untuk Mengobati HIV, TB, dan Malaria","jetpack_seo_noindex":false,"jetpack_seo_schema_type":"","_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"page_builder":"","_wpcom_ai_launchpad_first_post":false,"_jetpack_hide_featured_image":false,"_jetpack_featured_image_duplicate_dismissed":0,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"{title}\n\n{excerpt}\n\n{url}","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"_wpas_customize_per_network":false,"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[4830544],"tags":[],"class_list":["post-4408","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-artikel"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pgoAQX-196","jetpack-related-posts":[{"id":4333,"url":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/2026\/10\/12\/memahami-akar-dan-siklus-stigma-hiv-tb-dan-malaria\/","url_meta":{"origin":4408,"position":0},"title":"Understanding the Roots and Cycle of Stigma Around HIV, TB, and Malaria","author":"Komunikasi Malaria Perdhaki","date":"12 October 2026","format":false,"excerpt":"HIV, tuberkulosis (TB), dan malaria dapat diobati dan dikendalikan. Namun, stigma masih membuat banyak orang enggan memeriksakan diri atau berhenti berobat di tengah jalan. Rasa takut dihakimi, baik di lingkungan sekitar maupun di fasilitas kesehatan, membuat kasus terlambat ditemukan dan pasien hilang dari pemantauan (lost to follow up). HIV\/AIDS, tuberkulosis\u2026","rel":"","context":"In &quot;Berita &amp; Artikel&quot;","block_context":{"text":"Berita &amp; Artikel","link":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/category\/berita-artikel\/"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/pexels-tima-miroshnichenko-6860375.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/pexels-tima-miroshnichenko-6860375.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/pexels-tima-miroshnichenko-6860375.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/pexels-tima-miroshnichenko-6860375.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=700%2C400 2x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/pexels-tima-miroshnichenko-6860375.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=1050%2C600 3x"},"classes":[]},{"id":4317,"url":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/2026\/10\/07\/penanganan-hiv-aids-di-ntt-putus-penularan-dan-hapus-stigma\/","url_meta":{"origin":4408,"position":1},"title":"HIV\/AIDS Response in NTT: Breaking Transmission and Eliminating Stigma","author":"Komunikasi Malaria Perdhaki","date":"07 October 2026","format":false,"excerpt":"Penyebaran HIV\/AIDS harus ditangani secara serius agar tidak menjadi beban kesehatan masyarakat jangka panjang. Langkah utama yang harus dilakukan adalah penelusuran kasus secara masif, terutama di wilayah berisiko tinggi. Hingga Juni 2026, Komisi Penanggulangan AIDS Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat 10.209 kasus HIV. Berdasarkan laporan Radio Republik Indonesia (RRI), kelompok\u2026","rel":"","context":"In &quot;Berita &amp; Artikel&quot;","block_context":{"text":"Berita &amp; Artikel","link":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/category\/berita-artikel\/"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/sourmarb-1C9E2xeQX-E-unsplash.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/sourmarb-1C9E2xeQX-E-unsplash.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/sourmarb-1C9E2xeQX-E-unsplash.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/sourmarb-1C9E2xeQX-E-unsplash.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=700%2C400 2x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/sourmarb-1C9E2xeQX-E-unsplash.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1&resize=1050%2C600 3x"},"classes":[]},{"id":4196,"url":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/2026\/09\/18\/layanan-inklusif-dan-kolaborasi-kunci-penanggulangan-hiv-aids\/","url_meta":{"origin":4408,"position":2},"title":"Inclusive Services and Collaboration: The Key to Combating HIV\/AIDS","author":"Komunikasi Malaria Perdhaki","date":"18 September 2026","format":false,"excerpt":"Layanan Inklusif dan Kolaborasi: Kunci Penanggulangan HIV\/AIDS Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini ditularkan melalui kontak terhadap cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, atau air susu dari payudara. Virus HIV menginfeksi tubuh dalam beberapa tahapan. Pada fase akut, gejala belum\u2026","rel":"","context":"In &quot;Berita &amp; Artikel&quot;","block_context":{"text":"Berita &amp; Artikel","link":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/category\/berita-artikel\/"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/nappy-ClTrcu5sj-M-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/nappy-ClTrcu5sj-M-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/nappy-ClTrcu5sj-M-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/nappy-ClTrcu5sj-M-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=700%2C400 2x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/nappy-ClTrcu5sj-M-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=1050%2C600 3x"},"classes":[]},{"id":3803,"url":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/2026\/07\/09\/menembus-stigma-menghapus-rasa-malu-dan-cemas-dalam-pemeriksaan-hiv\/","url_meta":{"origin":4408,"position":3},"title":"Breaking Through Stigma: Eliminating Shame and Anxiety in HIV Testing","author":"Komunikasi Malaria Perdhaki","date":"09 July 2026","format":false,"excerpt":"Menembus Stigma: Menghapus Rasa Malu dan Cemas dalam Pemeriksaan HIV MALARIA PERDHAKI-JAKARTA. Rasa malu, cemas, dan takut yang dialami oleh Orang Dengan HIV (ODHIV) saat hendak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan merupakan tantangan psikologis sekaligus sosial terbesar dalam penanggulangan penyakit ini. Hambatan utama ini berasal dari stigma negatif masyarakat. Ada\u2026","rel":"","context":"In &quot;Berita &amp; Artikel&quot;","block_context":{"text":"Berita &amp; Artikel","link":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/category\/berita-artikel\/"},"img":{"alt_text":"Menembus Stigma: Menghapus Rasa Malu dan Cemas dalam Pemeriksaan HIV","src":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/bermix-studio-Gg6OrxUotLQ-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/bermix-studio-Gg6OrxUotLQ-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/bermix-studio-Gg6OrxUotLQ-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/bermix-studio-Gg6OrxUotLQ-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=700%2C400 2x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/bermix-studio-Gg6OrxUotLQ-unsplash.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=1050%2C600 3x"},"classes":[]},{"id":4292,"url":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/2026\/09\/30\/kenali-gejala-hiv-untuk-menangani-dan-mencegah-penularan\/","url_meta":{"origin":4408,"position":4},"title":"Recognize HIV Symptoms to Manage and Prevent Transmission","author":"Komunikasi Malaria Perdhaki","date":"30 September 2026","format":false,"excerpt":"HIV (Human Immunodeficiency Virus) menyerang sistem kekebalan tubuh dengan cara menghancurkan sel CD4, yaitu sel darah putih yang berperan mengatur daya tahan tubuh. Tanpa pengobatan, HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), saat sistem imun sangat lemah dan tubuh rentan terhadap berbagai penyakit. Kabar baiknya, dengan diagnosis dini dan\u2026","rel":"","context":"In &quot;Berita &amp; Artikel&quot;","block_context":{"text":"Berita &amp; Artikel","link":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/category\/berita-artikel\/"},"img":{"alt_text":"","src":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/pexels-cottonbro-5858740.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/pexels-cottonbro-5858740.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/pexels-cottonbro-5858740.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/pexels-cottonbro-5858740.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=700%2C400 2x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/pexels-cottonbro-5858740.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=1050%2C600 3x"},"classes":[]},{"id":2521,"url":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/2025\/12\/04\/sumba-timur-mantapkan-strategi-penanggulangan-penyakit-menular-melalui-pembentukan-satgas-atm\/","url_meta":{"origin":4408,"position":5},"title":"East Sumba Strengthens Communicable Disease Control Strategy through the Establishment of the ATM Task Force","author":"Komunikasi Malaria Perdhaki","date":"04 December 2025","format":false,"excerpt":"Sumba Timur Mantapkan Strategi Penanggulangan Penyakit Menular melalui Pembentukan Satgas ATM Sumba Timur Mantapkan Strategi Penanggulangan Penyakit Menular melalui Pembentukan Satgas ATM MALARIA PERDHAKI\u2013WAINGAPU. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur resmi memulai langkah strategis penanggulangan penyakit menular melalui pelaksanaan Rapat Koordinasi Perdana Satuan Tugas ATM (AIDS, Tuberkulosis dan Malaria) yang digelar di\u2026","rel":"","context":"In &quot;Berita &amp; Artikel&quot;","block_context":{"text":"Berita &amp; Artikel","link":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/category\/berita-artikel\/"},"img":{"alt_text":"Sumba Timur Mantapkan Strategi Penanggulangan Penyakit Menular melalui Pembentukan Satgas ATM","src":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-03-at-10.34.38-1-1.jpeg?fit=1200%2C707&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200,"srcset":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-03-at-10.34.38-1-1.jpeg?fit=1200%2C707&ssl=1&resize=350%2C200 1x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-03-at-10.34.38-1-1.jpeg?fit=1200%2C707&ssl=1&resize=525%2C300 1.5x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-03-at-10.34.38-1-1.jpeg?fit=1200%2C707&ssl=1&resize=700%2C400 2x, https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-03-at-10.34.38-1-1.jpeg?fit=1200%2C707&ssl=1&resize=1050%2C600 3x"},"classes":[]}],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/malariaperdhaki.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/pexels-minan1398-1222949.jpg?fit=4124%2C2652&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4408","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/262829457"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4408"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4408\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4413,"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4408\/revisions\/4413"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4411"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4408"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4408"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malariaperdhaki.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4408"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}