Bekali Siswa Sebelum Pasola di Gaura, Guru SD Inpres Hoba Tete Cetak Generasi Agen Perubahan Bebas Malaria

MALARIA PERDHAKI-Waikabubak. Ritual Pasola baru saja tuntas mewarnai wilayah Gaura, Desa Wetana, Sumba Barat. Masyarakat adat telah sukses menyelenggarakan ritual tersebut pada 13 dan 14 Maret 2026 lalu sebagai wujud kepercayaan Marapu dalam merayakan musim panen serta memohon kesuburan.
Sebagai salah satu dari tiga lokasi utama perhelatan Pasola di Sumba Barat—bersama Lamboya dan Wanokaka—momentum ini menarik perhatian warga dan wisatawan, baik lokal dan internasional. Di balik kemeriahannya, warga membangun kesadaran kolektif untuk mengantisipasi risiko penularan malaria pasca berkumpulnya massa dalam waktu lama.
Aksi nyata datang dari para penggiat kesehatan yang melakukan aksi kolaboratif di lingkungan sekolah. Petrus Ngongu Paila, seorang Guru Penggerak Eliminasi Malaria di SD Inpres Hoba Tete, mengambil inisiatif krusial membekali siswa-siswinya dengan edukasi pencegahan malaria tepat sebelum mereka mengikuti keramaian ritual adat tersebut.
“Saya melihat momen Pasola kemarin sebagai waktu yang sangat tepat untuk menanamkan kesadaran kesehatan kepada anak-anak. Saat mereka bertemu banyak orang dan ikut dalam keramaian, mereka sekaligus menjadi agen perubahan bagi keluarga masing-masing,” ujar Petrus saat merefleksikan kegiatannya (10/03/2026).
Melalui kegiatan ini, Petrus menanamkan kebiasaan sehat kepada para siswa sebagai agen perubahan cilik.Ia mengajak anak-anak memahami secara mendalam siklus penularan malaria. Petrus juga menekankan beberapa langkah praktis yang diharapkan menjadi bagian dari keseharian siswa dan keluarga.
Aksi ini mendukung penuh Gerakan Cemara (Cegah Basmi Malaria) yang berasal dari gagasan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat. Program ini secara konsisten mengintegrasikan pemeriksaan darah di sekolah, pembagian kelambu, serta kampanye perubahan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Dedikasi para pendidik, seperti Petrus Ngongu Paila, membuktikan bahwa perayaan Pasola tidak hanya meninggalkan kesan budaya yang mendalam, tetapi juga menunjukkan komitmen kuat warga dalam menjaga kesehatan. Edukasi yang berkelanjutan ini memastikan warisan leluhur tetap lestari sekaligus melindungi kesehatan generasi penerus dari ancaman malaria.