Dari Takut Jarum hingga Menjadi Ujung Tombak: Kisah Oktovina, Kader Malaria Kampung Menarbu

MALARIA PERDHAKI–TELUK WONDAMA. Tanggal 27 Juni hingga 2 Juli 2022 menjadi titik balik yang begitu berkesan dalam perjalanan hidup Oktovina Rahametan. Pada waktu itulah ia terpilih mengikuti pelatihan sebagai Kader Malaria.
Sebuah kesempatan yang datang bersamaan dengan rasa takut dan cemas. Sejak kecil hingga dewasa, jarum suntik adalah hal yang paling ia takuti. Membayangkan harus berhadapan langsung dengan darah dan pasien sempat membuatnya ragu melangkah.
Namun pelatihan tersebut perlahan mengubah segalanya. Hari demi hari, rasa takut itu mulai terkikis. Kepercayaan diri tumbuh, dan untuk pertama kalinya Oktovina berani memegang jarum suntik serta berhadapan langsung dengan pasien. Sejak saat itu, ia memahami bahwa menjadi Kader Malaria bukan sekadar tugas, melainkan panggilan untuk melayani masyarakat.
Kehadiran Kader Malaria membawa perubahan nyata di Kampung Menarbu, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama. Masyarakat yang sebelumnya harus menempuh perjalanan jauh ke Puskesmas untuk memeriksakan darah, kini tidak lagi perlu meninggalkan kampung. Pemeriksaan malaria dapat dilakukan langsung di rumah-rumah warga, lebih cepat, lebih dekat dan lebih terjangkau.
Pengalaman yang paling membekas bagi Oktovina terjadi pada 16 Agustus 2022. Hari itu ia menangani pasien pertamanya dengan gejala panas tinggi, menggigil, muntah kuning dan tubuh yang sangat lemas. Dengan persiapan dan kelengkapan yang dimilikinya, ia melakukan pemeriksaan darah. Hasilnya menunjukkan pasien bernama Dharma Menarbu positif Malaria Tersiana (Vivax). Dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab, Oktovina memberikan pengobatan hingga tuntas. Di momen itu, rasa haru tak terbendung, ia mampu membantu warganya sendiri, di kampung tempat ia tinggal dan dibesarkan.
“Sejak saat itu, puji Tuhan, tidak ada kasus malaria yang harus dirujuk ke rumah sakit. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kesehatan masyarakat, tetapi juga membantu mengurangi beban ekonomi warga, khususnya biaya bahan bakar perahu yang tidak sedikit apabila harus merujuk pasien ke RSUD atau Puskesmas,” kisah Oktovina.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi. Dalam pelaksanaan pemeriksaan rutin dari rumah ke rumah, masih ada sebagian masyarakat yang enggan diperiksa karena takut diambil darah. Selain itu, dukungan pemerintah kampung dalam hal sosialisasi juga masih perlu diperkuat agar kesadaran masyarakat semakin meningkat dan target menjadikan Kampung Menarbu sebagai kampung bebas malaria dapat tercapai.
Namun semua tantangan itu tidak pernah membuat Oktovina mundur. Demi masyarakatnya, demi kehidupan yang lebih sehat dan terbebas dari malaria, ia terus melangkah dan mengabdi. Ia percaya, dengan kerja bersama, saling mendukung dan bahu-membahu, mimpi tentang Kampung Bebas Malaria bukanlah hal yang mustahil.
Kampung Menarbu merupakan kampung kepulauan di Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, dengan jumlah 63 kepala keluarga dan 298 jiwa. Pola migrasi masyarakat, terutama pelajar dan warga yang bepergian ke luar kampung untuk berlibur, menjadi salah satu faktor masuknya malaria impor. Di sinilah peran kader menjadi sangat penting. Mulai dari menjaga, melindungi dan memastikan malaria tidak kembali menjadi ancaman.
Harapan Oktovina sederhana namun penuh makna: tidak ada lagi warga yang sakit malaria di Kampung Menarbu. Dari kampung kecil di sebuah pulau, ia terus melangkah bersama masyarakat, menuju masa depan yang sehat dan bebas malaria. (Kontributor Tulisan: PM SSR Trapesia Teluk Wondama, Agustinus Budiprasetyo)