Penjaga Malam Umousi: Kisah Kelambu, Pengabdian dan Semangat Melayani

MALARIA PERDHAKI-MANOKWARI SELATAN. “Kalau Bukan Torang Siapa Lagi, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi”. Pepatah sederhana ini seakan menggambarkan kisah pengabdian Bapak Matias Iba, Juru Malaria Desa (JMD) dari Kampung Umousi, Distrik Isim, Kabupaten Manokwari Selatan.
Di usia 60 tahun, ketika banyak orang mulai memperlambat langkah, ia justru terus bergerak dari rumah ke rumah, membawa kelambu, menyampaikan edukasi dan memastikan setiap keluarga memahami cara melindungi diri dari malaria.
Dengan berjalan kaki menembus permukiman yang tersebar, ia menyapa warganya satu per satu, berbicara dengan bahasa yang mereka pahami, dan menawarkan bantuan dengan ketulusan seorang ayah bagi komunitasnya.
Perannya bukan sekadar tugas, tetapi perjuangan panjang untuk menjaga 317 jiwa di kampungnya tetap sehat dan bebas dari ancaman malaria.
Salah satu upaya penting yang ia lakukan adalah mendistribusikan kelambu pengadaan tahun 2025 dari Puskesmas Dataran Isim.
Ia mendatangi setiap rumah, menyerahkan kelambu secara langsung sambil menjelaskan manfaat serta cara penggunaannya. Kelambu menjadi benteng utama bagi warga dari gigitan nyamuk pembawa malaria dan filariasis, dan di tengah keterbatasan sarana kesehatan, langkah sederhana namun konsisten seperti ini memberi dampak besar bagi keselamatan masyarakat.
Pengabdian Bapak Matias lahir dari kedekatan yang ia bangun dengan warga melalui pendekatan budaya. Ia menggunakan bahasa lokal Suku Soubh serta tiga sub-suku Arfak, membuat edukasi kesehatan lebih mudah diterima.
Pendekatan tersebut menumbuhkan rasa percaya dan mendorong perubahan perilaku hidup sehat secara perlahan. Pengalaman panjang dan kebijaksanaan usia turut membuat setiap pesannya memiliki bobot tersendiri bagi warga yang mendengarkannya.
Kisah Bapak Matias menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik, tetapi terutama pada ketulusan hati.
Semangat untuk membantu sesama, berbagi pengetahuan, dan menjaga lingkungan tetap sehat dapat dimiliki siapa saja, tanpa batas usia. Ketika setiap generasi bergerak bersama, upaya kesehatan tidak lagi menjadi tanggung jawab tenaga medis saja, melainkan gerakan seluruh masyarakat. Di Kampung Umousi, semangat itu hidup melalui langkah seorang pria 60 tahun yang tidak pernah berhenti melayani.
Penulis/Kontributor: Program Manager SSR Perdu, Johnsen F Pattipawaej
Penyunting: Tim Komunikasi & Informasi Malaria Perdhaki
Artikel di atas disadur dari: https://ngungguen.blogspot.com/2025/11/usia-bukan-penghalang-untuk-melayani.html